December 31, 2016

#ROH 60 : Cats

Diantara berbagai kebahagiaan baru yang saya dapatkan di tahun ini, Pingo dan Mei adalah salah satu yang enggak pernah saya sangka akan masuk ke dalam #ROH. Semenjak dua puluh tiga tahun yang lalu Bunda sempat keguguran karena virus tokso dari salah satu kucing yang dulu sempat dipelihara oleh nenek saya, keluarga saya cukup hati - hati dalam memelihara binatang, terutama kucing. Makanya begitu saya tinggal dengan Satya yang membawa kedua kucingnya all the way from Brazil, saya sempat merasa kagok melihat keberadaan Pingo dan Mei. Saya inget banget, padahal baru sekitar dua minggu saya tinggal bareng, Pingo udah beberapa kali 'membangunkan' saya pagi buta karena kelaparan (biasanya di saat Satya lagi enggak di rumah). Awalnya saya sempat shock dan mengeluh ketika melihat Pingo tiba - tiba di depan muka saya dan kadang malah lompat ke kasur saya saat masih tidur; atau ketika menemukan Mei udah di dalam selimut saya ketika saya pulang kerja. 



Namun semakin lama saya tinggal dengan mereka, saya sadar sebenarnya bukan salah mereka. Melihat kedua housemates saya yang bisa segitu dekatnya dan bahkan terkadang memperlakukan mereka layaknya anak kecil, justru sadar bahwa saya yang terlalu 'kaku' karena enggak pernah tinggal dengan kucing atau binatang lainnya. Setiap pulang kerja dan membuka pintu apartemen, pasti Pingo dan Mei udah di depan pintu menyambut kedatangan saya. Setiap kali saya sedang sendiri di apartemen, pasti mereka juga ikut 'nongkrong' di lantai atas, tepatnya di depan kamar saya, seraya menemani saya. Enggak jarang juga Pingo mengelus kaki saya, yang kata housemates saya, menandakan bahwa ia suka dengan saya! Dan yaa, akhirnya sekarang saya justru merasa keberadaan Pingo dan Mei memberikan kehangatan tersendiri. Saya pun jadi merasa ikutan senang begitu melihat Mei yang awalnya pemalu dan enggak mudah dekat dengan orang baru, sekarang udah mau dielus-elus sama saya. Malah terkadang saya yang suka gemes sendiri dan suka iseng kalo melihat Mei lagi diem. Ha! Bakalan kangen pasti kalo nanti enggak tinggal serumah lagi dengan mereka :")

#ROH 59 : Light

Entah sejak kapan saya menjadi penggemar lampu, hingga salah satu bagian yang membuat saya betah berlama - lama di IKEA adalah bagian yang menjual lampu. Hingga saya selalu bermimpi menghiasi rumah saya nantinya di beberapa minggu di bulan Desember dengan dipenuhi lampu - lampu kecil ini. Alhamdulillah, impian saya memiliki kamar dengan lampu LED akhirnya terpenuhi tahun ini, meskipun menurut saya masih kurang meriah (padahal udah dipasang tiga kabel lampu LED yang berbeda. Ha!). Kayanya itu juga alasan mengapa saya selalu menyukai bulan Desember. Karena hanya di bulan ini saya bisa menikmati berbagai lampu yang meriah selain di toko maupun di kamar saya sendiri. Dimana seisi kota terlihat lebih meriah dan cantik dengan berbagai jenis, bentuk, dan warna lampu. Di atas jalan. Toko - toko. Pepohonan. Restoran dan kafe. Rumah dan apartemen yang saya lalui. Sayang, koleksi foto saya enggak begitu banyak. Terkadang saya terlalu menikmati cahaya - cahaya tersebut dengan kedua mata saya sendiri, hingga lupa untuk memfotonya. Seandainya berbagai dekorasi tersebut terus ada sepanjang tahun, pasti malam enggak lagi menakutkan. Dan mungkin dengan begitu, saya akan lebih menyukai gelap. Karena hanya saat itu saya bisa melihat keindahan dari berbagai cahaya lampu yang terpancar di tengah kegelapan.





December 30, 2016

#ROH 58: Housemates

Tinggal satu rumah atau apartemen dengan orang - orang yang enggak dekat adalah salah satu ketakutan saya dari dulu. Tapi kali ini bukan cuma enggak dekat, saya memutuskan untuk mengambil resiko untuk tinggal dengan dua orang yang sama sekali baru alias enggak saya kenal sama sekali. Sebenarnya saya dan Satya sama - sama mengambil PhD, namun saat memutuskan untuk mencari tempat tinggal bareng, kami berdua baru beberapa kali ketemu dan belum banyak mengenal satu sama lain. Sedangkan dengan Luciana, meskipun sempat tiga bulan kerja di jurusan saya, tapi saya belum pernah sama sekali ketemu dengannya. Jadi saya hanya mendengar penjelasan sekilas dari Satya karena mereka sama - sama dari Brazil. Hal ini pun juga sempat menjadi keraguan saya karena tandanya saya akan menjadi orang yang 'berbeda' sendiri dari mereka. Namun terlepas dari berbagai hal tersebut, entah kenapa saat itu saya yakin bahwa keputusan saya untuk tinggal bersama mereka lebih baik daripada mencari tempat tinggal untuk saya sendiri maupun dengan orang yang lebih enggak saya kenal.


Jujur, awalnya saya sempat menyesal dengan keputusan saya ini. Terutama dua bulan pertama dimana kami masih dalam masa adaptasi untuk mengenal dan membiasakan diri satu sama lain. Belum lagi dengan kenyataan bahwa kami memilih apartemen yang unfurnished - bahkan di lantai dasar harus dipasangkan karpet karena enggak ada lantainya! Bukan hanya sangaaaaat melelahkan secara tenaga dan pikiran, tetapi juga menyulitkan kondisi kami bertiga baik secara finansial dan waktu. Ditambah lagi kadang saya sempat merasa berbeda, bukan hanya karena nationality, tapi juga sifat. Satya dan Luciana merupakan wanita - wanita yang penuh energi, banyak ngobrol, extrovert, ceria, dan bisa mengekspresikan diri mereka dengan sangat mudah. Namun setelah memasuki bulan ketiga, saya mulai merasa nyaman tinggal bersama mereka dan justru melihat bahwa berbagai sifat mereka tersebut bisa melengkapi sifat saya yang introvert dan pendiam, serta mengisi diri saya yang sempat 'kehabisan energi'. Bahkan bisa dibilang mereka adalah teman pertama saya disini yang benar - benar ada bukan hanya di saat senang, tetapi juga susah. Mereka juga orang pertama yang melihat saya marah, sedih, dan stress. Mereka jugalah yang membuat saya akhirnya berani untuk membuka diri saya. Dan mereka bisa menerima berbagai kekurangan saya tersebut. Lebih dari itu semua, mereka memberikan banyak warna bagi hari - hari saya disini. Saya juga bersyukur karena mereka berdua sama - sama bersih dan rapih (satu hal yang paling saya tekankan saat tinggal dengan orang baru adalah kedua hal ini!), vegetarian (walaupun sampai saat ini saya masih mengaku diri saya' flexitarian', sebenarnya saya udah jaraaaaang banget menyentuh daging), dan banyak memberikan hal - hal baru dan positif dalam hidup saya mulai dari soal menu masak, merawat tanaman, hingga pengalaman hidup, serta menambah wawasan saya tentang isu lingkungan-politik. Terlepas dari berbagai drama yang sempat mewarnai awal pertemanan kami, saat ini saya merasa bersyukur dengan keputusan tinggal bersama mereka. Obrigado, moninas! 

December 29, 2016

#ROH 57: Angka

Dari kecil saya bukanlah penggemar angka. Matematika adalah musuh saya dari jaman duduk di bangku SD hingga tahun pertama kuliah. Dalam melakukan riset pun, saya lebih menikmati metode kualitatif dibandingkan kuantitatif. Dan semakin kesini, saya pun semakin menyadari bahwa angka bukanlah suatu hal utama yang saya kejar dan menarik hati saya, termasuk angka yang tertera di media sosial saya. Jujur, saya enggak lagi peduli dengan jumlah followers dan jumlah likes untuk foto yang saya posting di Instagram. Karena saya sepenuhnya sadar bahwa enggak ada satu pun dari mereka yang merepresentasikan kualitas seseorang. Namun di tahun ini, saya melalui waktu dimana saya melihat sosok diri saya sebagai orang yang enggak menarik dan unlikeable. Di saat itu, to my surprise, melihat angka yang tertera di postingan Instagram saya ternyata bisa memberikan rasa bahagia tersendiri ke saya. Rasa bahagia yang berbeda dari sebelum - sebelumnya. Karena kali ini, dengan melihat jumlah likes maupun viewer dari snapgram saya, membuat saya merasa ada dan likeable. Saya enggak menyangka bahwa ternyata masih cukup banyak orang - orang yang 'tertarik' untuk melihat berbagai postingan enggak penting yang saya upload di snapgram. Saya enggak menyangka bahwa foto - foto yang saya posting dengan niat awalnya hanya mau berbagi foto atau sekedar melampiaskan kegalauan dan isi pikiran saya, ternyata mendapat respon yang jauh dari dugaan saya. Terlepas dari apapun alasan mereka yang membuat mereka melakukan hal tersebut, tapi dengan mengetahui hal tersebut udah cukup membuat saya merasa terapresiasi. Terima kasih :')

December 28, 2016

#ROH 56: Plants

Dari awal saya pindah kesini saya udah mulai menyicil beberapa tanaman. Tapi hampir semuanya adalah jenis succulent, alias kaktus. Selain karena berbagai bentuknya yang lucu, alasan lainnya adalah karena mereka mudah untuk dirawat. Cukup sekali seminggu memberikan air saat musim dingin, dan tiga kali seminggu saat musim panas. Meskipun begitu, ternyata tetap aja enggak mudah untuk merawat mereka. Memasuki bulan ketujuh, perlahan - lahan para succulents tersebut mulai layu. Beberapa ada yang daunnya mulai menguning, beberapa ada yang mengerucut. Di saat yang hampir bersamaan, ketika di hari saya pindahan dari student dorm yang saya tinggali sebelumnya, saya melihat salah satu plastik berisikan beberapa jenis tanaman dengan sebuah note "Please pick me up :)". Saat itu saya ingin banget mengambilnya, tapi enggak langsung saya ambil karena masih ribet dengan barang - barang pindahan saya. Dan saya takut kalau saya bawa malah akan merusak tanaman - tanaman tersebut. Walaupun dalam hati saya berharap enggak akan ada yang mengambilnya. Dan benar aja, ketika saya kembali lagi sore harinya, plastik tersebut masih ada di depan pintu masuk asrama. Langsung aja tanpa ragu saya ambil dengan perasaan senang. Ada koleksi tanaman baru dan kali ini bukan succulents


Nyatanya tiga bulan semenjak saya ambil ketiga tanaman tersebut, Bridal Ivory, Suze, dan Muscari, enggak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan tanda - tanda akan tumbuh. Sampai akhirnya saya sempat hopeless kalau mereka akan tumbuh, terutama Suze dan Muscari yang semakin hari bentuknya semakin enggak terlihat menarik - yang membuat saya hampir membuang mereka! Karena curiga dan penasaran, saya coba pindahkan mereka dari kamar saya menjadi ke dapur; dimana cahaya matahari lebih banyak daripada di kamar saya. Di saat itulah saya sadar betapa bodoh dan careless nya diri saya. Bahwa yang mereka butuhkan hanyalah paparan sinar matahari yang berlimpah, yang mana enggak mereka dapatkan di kamar saya. Semenjak itu, bukan hanya Muscari yang mulai memperlihatkan bunga - bunganya, Bridal Ivory yang semakin tumbuh tinggi hingga hari ini menunjukkan bunganya juga; tetapi para succulents yang tadinya beberapa terlihat layu dan mengecil, sekarang terlihat tumbuh segar lagi. Semenjak melihat perubahan tersebut, setiap kali saya ke dapur pasti saya perhatikan satu - satu. Bukan hanya saya lebih perhatian dengan mereka, tetapi juga merawat mereka lebih baik lagi supaya mereka terus bertahan terutama melewati musim dingin ini. Mungkin ini terdengar berlebihan, tapi begitu melihat pertumbuhan signifikan para tanaman ini yang tadinya udah hampir layu dan enggak tumbuh selama berbulan - bulan, bukan hanya membuat saya bahagia dan puas, tapi lebih dari itu, memberikan harapan baru juga untuk hari - hari kelam saya. Jika pada tumbuhan tersebut akhirnya bisa tumbuh dan berbunga, harusnya hal yang sama juga akan terjadi dalam hidup saya. It's only a matter of time. Because eventually things will get brighter, and we just have to wait for it. 

kiri: Bridal Ivory; kanan: Muscari

December 27, 2016

#ROH 55: My Bedroom's View

Saya sempat melewati hari - hari dimana setiap kali saya membuka mata saat terbangun dari tidur, saya merasa sedih. Hingga saya melihat pemandangan di luar jendela kamar saya. Gradasi warna biru dengan sedikit jingga dan oranye di atas bangunan bata cokelat dengan beberapa kincir angin tua yang tersebar di tengah - tengahnya. Terkadang disertai seagulls yang terbang kesana kemari. Pemandangan yang sampai sekarang masih belum membuat mata saya bosan untuk menatapnya. Pemandangan yang terkadang masih sulit untuk dipercaya bahwa itu semua nyata dan berada di luar apartemen saya. Pemandangan yang berhasil memberikan rasa syukur bahwa saya masih bisa membuka mata setelah bangun dari mimpi buruk. Pemandangan kamar terbaik yang pernah saya dapatkan sepanjang usia saya hingga hari ini. Pemandangan yang membuat saya berdoa agar kamar saya berikutnya bisa memiliki pemandangan seindah ini. 



December 26, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #8

Enggak ada satu pun pengalaman yang sia - sia. Bahwa setiap kejadian atau hal buruk yang kita lalui, sebenarnya selalu ada pelajaran dibaliknya yang justru membuat kita menjadi seseorang yang lebih baik. Dari saya kecil, Ayah dan Bunda selalu memberikan nasehat ketika ada hal - hal buruk yang menimpa kami. Kalau Ayah bilang "semakin banyak kita diberi cobaan, tandanya Tuhan semakin sayang sama kita, karena Tuhan ingin melihat seberapa besar kita masih bisa bertahan untuk menjadi orang yang baik di saat kita diberikan masalah". Sedangkan Bunda lebih percaya bahwa ketika ada hal - hal buruk yang terjadi dengan kita, itu adalah balasan dari kesalahan yang kita lakukan di masa lalu, atau biasa dikenal dengan 'karma'. Tapi yang jelas, kedua orang tua saya selalu mengajarkan saya untuk tetap mensyukuri sekecil apapun nikmat yang masih diberikan oleh Tuhan; sekalipun di kondisi yang sebenarnya enggak ada hal baik yang bisa dilihat. Kondisi dimana tanpa disadari saya terus mempertanyakan kepada Tuhan mengenai kesalahan apa yang telah saya lakukan di masa lalu sehingga pantas untuk menerima cobaan seperti itu.


Dan saya sangat bersyukur karena ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh mereka: enggak ada satu pun hal yang sia - sia di hidup ini, termasuk berbagai musibah maupun pengalaman buruk yang kita lalui. Mungkin beberapa diantara kalian ada yang tertawa, dan berkata, "lo belum tau aja pengalaman terburuk yang gue lalui. Lo pasti bakalan ngubah pandangan dan perkataan lo tersebut". Iya sih, saya memang belum mengalami setiap kejadian dan pengalaman terburuk dari setiap manusia yang ada di dunia ini.  Tapi saya bisa memastikan bahwa banyak berbagai kejadian yang membuat saya sempat menyesal selama bertahun - tahun akan berbagai hal yang pernah saya lakukan di masa lalu saya.  Menyesal dengan apa yang saya lakukan. Menyesal dengan pilihan yang telah diambil. Bahkan ada masanya saya sempat menyesal terlahir menjadi diri saya. Tapi kalau enggak melewati hal - hal tersebut, mungkin sampai sekarang saya masih belum bisa membuka sepenuhnya pikiran saya dan menerima berbagai perbedaan dari orang - orang dan lingkungan yang saya temui. Karena hanya dengan pernah melewati hal - hal yang serupa dengan mereka semua, saya bisa memposisikan diri saya ketika saya menjadi diri mereka. Karena hanya dengan pernah mengalami hal yang serupa, saya bisa melihat segala sesuatunya dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Dan yang jelas, berbagai pengalaman pahit dan masa - masa paling gelap tersebut, justru pada akhirnya membuat saya menjadi sosok yang semakin tegar. 

December 25, 2016

#ROH 54: Christmas Markets

Banyak alasan mengapa saya sangat menanti bulan Desember, terutama tahun ini. Selain pada dasarnya bulan ini adalah bulan favorit saya, kali ini terasa lebih exciting karena di bulan ini juga biasanya diadakan christmas market. Entah dari sejak kapan saya minta rekomendasi ke teman saya yang orang Jerman mengenai kota yang wajib dikunjungi untuk mendapatkan suasana natal yang terbaik. Secara gitu yaa christmas market memang berasal dari negara ini, enggak heran kalau beberapa yang paling direkomendasikan juga berasal dari Jerman. Sebenarnya di Belanda, termasuk Rotterdam, pun mengadakan acara yang serupa, namun lebih terlihat seperti pasar biasa daripada christmas market. Alias enggak terlalu meriah dan dekoratif. Untungnya dari sini ke Jerman hanya perlu waktu tiga jam, sehingga enggak perlu membutuhkan persiapan yang ribet dan waktu yang lama untuk mengunjungi Christmas market ini. 








Dan kenyataan bahwa saya udah pernah beberapa kali ke christmas market ketika di UK, ternyata enggak sedikitpun mengurangi kegirangan saya begitu sampai di depan pintu gerbang market pertama di Cologne, salah satu kota yang terkenal dengan christmas markets-nya. Saya tetap seperti anak kecil yang dibawa ke Disneyland untuk pertama kalinya. Terlalu senang melihat berbagai jenis pernak - pernik yang dijual.  Mencium berbagai aroma makanan yang berhasil membuat saya menelan ludah berkali - kali. Merasakan kehangatan dari orang - orang di sekitar saya. Sekalipun kami enggak saling kenal. Sekalipun saya enggak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Namun melihat mereka tersenyum dan tertawa ketika mengobrol dengan keluarga maupun teman - teman mereka, rasanya saya pun ikut merasa senang.









Kalau saja kami datang lebih pagi dan udara dingin hari itu enggak menusuk hingga ke tulang, saya yakin pasti enam christmas markets yang ada di Cologne sudah habis dikunjungi oleh kami (re: saya dan beberapa teman dari Rotterdam). Sayangnya hari itu suhu udara begitu dingin hingga membuat kami merasa enggak sanggup lagi untuk berjalan menuju tiga christmas markets lain yang jaraknya cukup jauh dari yang sudah kami kunjungi: Dom van Keulen (enam foto pertama), Thuis van de Heinzel (delapan foto berikutnya), dan Engeltjesmarkt (lima foto terakhir). Dari ketiga christmas markets yang sudah kami kunjungi, bisa terlihat jelas perbedaan tema dan suasananya, yang kalau disuruh pilih yang mana yang paling bagus, saya enggak bisa menjawabnya karena masing - masing memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri. Meskipun saya sebenarnya masih penasaran dengan tiga markets lainnya, kali ini saya udah sangat senang harapan saya untuk mengunjungi christmas markets bisa kesampaian. Dan terlebih lagi, kunjungan saya hari itu berhasil membuat saya bisa merasakan kembali betapa menyenangkannya untuk bermimpi, seperti layaknya anak kecil. 






December 12, 2016

#ROH 53: Old Friends

Semenjak mulai memasuki adolescent, saya semakin yakin bahwa seberapa banyak orang yang kita kenal dan teman baru yang kita temui nantinya, enggak akan ada yang pernah menggantikan posisi teman - teman lama yang udah mengenal kita sebelumnya. Sekalipun jarang ketemu dan hanya sesekali aja komunikasi, tetep aja begitu ketemu langsung lupa waktu saking enggak ada habisnya bahan pembicaraan. Mereka juga mengembalikan semua kenyamanan yang enggak saya temui ketika berhadapan dengan teman maupun lingkungan baru; entah dengan menyadarkan saya bahwa sampai kapanpun saya masih tetaplah saya yang dulu, atau mengembalikan semua kenangan manis dan masa - masa dimana masalah terbesar hidup hanyalah sebatas memikirkan mau makan dimana :))

P.S: Terima kasih Dini, Pichu, Rama, Aldi, Dika, dan Ami yang udah meluangkan waktu kalian untuk ketemu gw dan bahkan berbagi cerita serta inspirasi. See you next time!




December 10, 2016

#ROH 52 : Karaoke

Saya enggak pernah ingat kalau dari kecil saya suka menyanyi, tapi yang jelas tiga tahun belakangan ini saya akhirnya sadar kalau menyanyi adalah salah satu sumber kebahagiaan saya, bahkan cara untuk mengeluarkan ekspresi saya selain dari tulisan dan pakaian. Tapi bagi orang seperti saya yang pemalu begini (cieilah), tentu aja enggak bisa menyanyi di sembarang tempat. Apalagi dengan kenyataan bahwa suara saya juga pas-pasan, makin aja enggak pede kalau mesti nyanyi di depan orang lain. Sejauh ini cuma ada dua tempat yang bisa bikin saya nyaman buat menyanyi: kamar saya dan ruang karaoke. Saat karaoke pun saya harus bersama dengan orang - orang yang udah tau "jeleknya" saya, atau memang orang yang gokil. Kalau enggak begitu yaa, yang ada saya malu - malu aja nyanyinya. Haha! Nah, salah satu partner nyanyi yang bisa bikin saya bebas mengeluarkan suara dan juga ekspresi saya adalah kedua sahabat kecil saya, Anna dan Fia. Kalau udah karaoke sama mereka, rasanya dua jam berasa kaya lima belas menit! Secara gitu yaa kita bertiga memang suka nyanyi dan gila-gilaan bareng. Mulai dari nyanyi satu lagu buat satu orang, sampai sengaja nyanyi satu lagu yang bisa buat kita bertiga. Biasanya sih yang kedua itu yang bikin paling ngakak. Soalnya kami beneran dari awal membagi "peran". Misalnya saat nyanyi salah satu lagu favorit kami, Stand Up for Love-nya Destiny's Child, dari awal kami udah membagi siapa yang menjadi Beyonce, Kelly, dan Michelle. Terus yang paling bikin gemesnya lagi adalah kami bertiga nyanyi dengan sangat khidmat dari awal sampai akhir lagu itu. Berasa udah kaya konser beneran aja. Hahaha! Makanya begitu saya udah beli tiket pulang ke Indonesia, saya langsung bilang ke mereka buat memasukkan 'karaoke' saat kami ketemu. Walaupun sebenarnya dua jam masih kurang puas, tapi saya seneng banget akhirnya bisa mengeluarkan ekspresi diri saya hingga joget dan teriak. Makasih buat Fia yang udah memberikan ide untuk merekam sebagian dari sesi karaoke kami. Meskipun saya enggak bisa karaoke selama beberapa bulan ke depan, dengan melihat video - video karaoke kami ini aja udah menghibur saya banget :')

December 09, 2016

Dear, Self.

Today, at this certain time, I just want to let you know that I'm really proud of you. Not because of the things that people compliment you on from what they can see of you, but because of those that they don't see. Those things that matter the most, and yet no one ever noticed and complimented on.

For being so patient in facing irresponsible people who have treated you badly, to the extent that you accepted what they have done to you and forgave them in spite of the fact that they do not feel sorry for you. 

For being so responsible in facing all the decisions that you have chosen in your life even though many of them look more like a mess now. But instead of giving up, you keep moving forward and working as best as you can. 

For being so strong in coping with your problems and trying to solve them all on your own. No one realises what things you have been through. Not even those people who meet you everyday.  



For being so positive about everything that has happened in your life, that you refuse to complain and talk any problems you faced because you don't want to bring any negativity to other people. You don't even want to put too much thought about it yourself, because you don't want to waste your energy on things that are bad for you. Because you don't want them to lessen your gratitude.  

For being so mature in handling all the hard times that people normally do when they reach certain age, and yet, life has given you so much earlier than it supposed to. But you don't complain. Because you know that as long as some things do not kill you, they only make you stronger. 

For being so kind to other people around you that you always want to please them and give so much effort to make them happy, until you forget to make yourself happy. For being so brave in battling your own fear and doing what you are afraid of. For being so mature that you can keep smiling, laughing, and even make jokes of your own problems. 

And most of all, I thank you for not giving up. I thank you for keep trying to stand by your own feet. I thank you for always trying to be a better person. I thank you for not changing yourself into someone you are not. I thank you for all the effort to make me stay alive.

December 08, 2016

#ROH 51: Family Trip

Salah satu hal yang paling signifikan dalam memberikan asupan energi positif dan kebahagiaan ke saya ketika kembali ke Indonesia sebulan yang lalu, enggak lain adalah keluarga saya sendiri. Disini saya enggak akan bahas lebih jauh tentang keluarga saya, tapi tentang perjalanan kami bersama ke Yogyakarta. Jadi ceritanya dari beberapa bulan yang lalu ketika udah ada rencana  jalan - jalan untuk menghadiri wisuda Ali, saya sempat sedih karena saya kira akan melewati kesempatan 'langka' ini. Secara gitu yaa, terakhir kali pergi ke luar kota sekeluarga lengkap itu enam tahun yang lalu. Itu pun cuma ke Bandung. Makanya begitu saya dapat kabar kalau harus ke Indonesia, ada sisi lain dari hati saya yang merasa sangat senang karena tandanya saya bisa ikut jalan - jalan bareng. Nyatanya bukan saya doang yang bela - belain untuk ikut. Para saudara saya yang lain juga berusaha untuk meluangkan waktu mereka demi bisa merealisasikan rencana ini. Mulai dari Uni Chica yang rela pergi duluan semalam sebelum kami datang, Gladyz yang cuma bisa ikut satu hari (pergi dan pulang di hari yang sama!) karena ada ujian keesokkan harinya, serta saya, bang Ardha, dan ka Dita yang harus pulang di hari kedua karena ada urusan kerjaan yang enggak bisa ditinggal. Walaupun kali ini masih enggak lengkap (abang saya yang pertama dan keluarga-nya serta kakak ipar saya yang kedua enggak ikut) dan waktu kami juga sangat singkat, semua itu enggak mengurangi sedikit pun kebahagiaan dan kebersamaan yang saya rasakan selama perjalanan ini.








Terlepas dari keluarga saya, trip ini mungkin enggak akan terlalu menyenangkan kalau bukan didukung oleh kota yang kami kunjungi. Pada dasarnya saya memang udah jatuh hati dengan Jogja yang menjadi kota favorit kedua di Indonesia (tentunya setelah Bandung! hehe). Sekalipun hampir setiap tahun saya ke kota ini, rasanya enggak pernah bosan. Selalu ada hal baru dari Jogja yang menarik untuk dikunjungi, terutama beberapa tahun belakangan ini yang mana semakin banyak tempat baru baik di kota maupun di daerah sekitarnya. Bahkan selama tiga tahun kemarin saya udah beberapa kali mengunjungi Jogja setiap tahunnya, tetap aja tuh masih banyak tempat baru yang saya kunjungi dan berbeda dari sebelumnya. Mulai dari menginap di Greenhost Boutique Hotel, menuntaskan hasrat makan geprek lagi dan kali ini akhirnya nyobain Preksu (wajib cobain gurame gepreknya!), jalan - jalan singkat ke Taman Sari dan kampung sekitarnya (yang baru saya sadari sekarang betapa menyenangkannya suasana di kampung ini), makan di restoran Milas (cocok buat kalian yang vegetarian dan penikmat slow living dengan suasananya yang santai dan dilengkapi dengan perpustakaan mini), naik mobil kayuh warna - warni (enggak tau apa namanya haha) di Alun - Alun, main ke UGM untuk pertama kalinya, hingga nyobain Tempo Gelato yang super hitz (and yet I personally think it's overrated). Overall, saya merasa puas banget meskipun perjalanan ini terasa begitu cepat dan singkat yang mana membuat semua ini sekarang terasa surreal bagi saya. Semoga aja tahun depan kami memiliki kesempatan lagi untuk pergi bareng sekeluarga lengkap dengan waktu yang lebih lama :')