June 26, 2016

Naples & Pompeii, 28 April 2016.

Gedung - gedung modern yang kelihatan tidak menarik karena sudah terlihat usang, apartemen padat yang memiliki balkoni dengan berbagai jemuran baju para penghuninya, serta lalu lintas yang amburadul. Seratus delapan puluh derajat berbeda dari pemandangan yang aku lihat selama di Roma. Masih merasa takjub dengan pemandangan di sekitarku, tiba - tiba aku mendengar suara mas Andie yang saat ini sedang membuka kaca depan mobil. "No, no, no! My car is already clean, you don't need to clean it up!".  Ujarnya, seraya menolak halus 'tawaran' seorang laki - laki yang tanpa disuruh saat ini sedang mengelap kaca depan mobil. Woah, sedetik kemudian langsung mengingatkanku dengan Jakarta. Namun tetap saja ia terus menyemprot dan mengelap kaca depan mobil ini; menghiraukan perkataan mas Andie. Lalu lagi - lagi secara paksa, ia meminta uang setelah selesai melakukan 'pekerjaan' nya itu. Akhirnya karena enggak ada pilihan lain, mas Andie memberikan 5 Euro sambil menggerutu. Dengan suasana di mobil yang masih cukup tegang, karena kondisi jalanan yang bikin hati deg - degan, mobil kami didatangi kembali oleh lelaki muda ketika sedang berhenti di sebuah lampu merah. Walaupun orang ini berbeda dari yang sebelumnya kami temui, namun ia sudah siap dengan 'peralatan' yang sama. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini sebelum orang tersebut mengeluarkan peralatannya, mas Andie sambil memasang wajah galaknya langsung membuka jendela dan berteriak "Ehh, jangan! jangan disemprot! Udah bersih mobil gw. Entar kalo lo lap yang ada mobil gw rusak nih!". Dan di luar dugaan, justru kali ini berhasil membuat orang tersebut kebingungan dan langsung menjauh dari kami. Melihat reaksinya tersebut, membuat kami ikutan bingung dan akhirnya enggak bisa menahan tawa. Ternyata Napolitano lebih paham Bahasa Indonesia daripada English! :))





Melihat berbagai kondisi kota ini, enggak mengherankan jika banyak orang yang mengingatkan untuk berhati - hati selama di Naples atau Napoli, dan bahkan cukup banyak yang juga tidak merekomendasikan kota ini untuk dikunjungi. Kalau bukan karena lokasinya yang terletak sejalan menuju Pompeii dan juga karena gelarnya sebagai kota kelahiran Pizza, mungkin kota ini enggak akan dimasukkan ke dalam rencana perjalanan kami. Tapi justru dari pengalamanku berkunjung ke Pizzeria Di Matteo, salah satu restoran yang paling banyak direkomendasikan oleh netizen, disitu aku baru menyadari bahwa kota ini sangat menarik untuk dikunjungi karena keunikan dan atmosfer yang dimiliknya. Restoran ini hanyalah sebuah restoran mungil yang terletak di sebuah jalanan kecil yang ramai oleh masyarakat lokal. Mulai dari restoran keluarga yang dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang mengantri untuk masuk atau justru sedang duduk asik mengobrol sambil menyantap pizza yang nampak begitu lezat. Penjual pasta yang menjajakan berbagai bentuk dan jenis pasta dari yang sering aku lihat hingga yang belum pernah kulihat sebelumnya. Pedagang kue yang menjajakan kue - kue basah yang beberapa diantaranya terlihat seperti jajanan yang dijual di Pasar 'Subuh' Senen. Dan masih banyak lagi hal - hal yang mengubah wajah Napoli di mataku. Even though I only spend a couple of hours here, all those scenes have given me a deeper, real authentic experience. Oh, and the Pizza Calzone! It tastes sooooo good. 






Berbeda dari Napoli, bagiku Pompeii justru terasa.... hambar. Mungkin karena kota-nya yang sekilas terlihat sepi, atau mungkin karena selama di Pompeii aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkunjung ke Pompeii Ruins. Memangtujuan utama kami kesini pun karena penasaran dengan puing - puing kota lama yang tersisa akibat letusan Gunung Vesuvius dan sempat terkubur selama ribuan tahun. Membayangkan bagaimana peristiwa yang tiba - tiba saja terjadi dalam kurun waktu kurang dari 24 jam dan berhasil merenggut belasan ribu jiwa, cukup membuatku merinding dan menyadarkanku kembali akan kematian. Tapi terlepas dari itu, Pompeii hanyalah sebuah kota wisata yang dipenuhi oleh para turis. Satu - satunya pengalaman mengesankan yang aku dapat di kota ini justru datang dari tempat penginapan kami. Selama dua malam kami menginap di B&B yang terasa nyaman, bukan hanya karena tempatnya yang cantik, tetapi juga karena sang pemiliknya adalah keluarga yang sangat ramah dan baik hati. 







7 comments:

  1. Woaaaaaah asyik banget ke Napoli dan Pompeii, btw aku ada pertanyaan itu foto pertama bapak-bapaknya kok pas gitu sih haha. Dan foto jemuran, aku masih ngebayangin ngejemurinnya gimana :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahh iyaa justru aku buru - buru foto karena pas banget si bapake kaya lagi foto model gitu :)) yang aku liat pas disana sih itu talinya kan panjang yaa, jadi ditarik - tarik gitu sama si yang punyanya *susah ngejelasinnya, semoga paham maksudku hahaha*

      Delete
  2. Ozu aku udah baca bukumu ♥♥♥ setelah kelewatan PO dan bolak balik ke gramedia, akhirnya kemarin muncul juga XD menanti part kedua #lahhhh

    Btw penasaran kota napoli ada hubungannya dengan es krim neapolitan tidak ya? #curious to the max

    Keep writing and inspiring ♥

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah udah ada di gramedia yaa. senangnyaa ♥ makasih yaaa, doakan aja supaya ada kesempatan buat bikin buku lagii :D

      iyaa adaa, itu neapolitan es krim asalnya dari napoli. tapi aku enggak sempet coba pas kesana huhuu.

      sukses juga buat kamu yaaa :)

      Delete
  3. Hi Nazura,

    I like the way you take pictures. Awesome! :)

    ReplyDelete
  4. Waaah....udaah adaa buku Mbaa Nazuu yaa....
    D area Banda Aceh udah ada belom Mbaa??
    Suksess sllu u Mbaa Nazu ya. Ditguu crita2 selanjutnya

    ReplyDelete