June 22, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #1

Awalnya saya sempat ragu untuk menulis ini semua. Pertama, karena menurut saya ini agak lebih personal dibandingkan beberapa postingan saya sebelumnya. Kedua, karena dari hasil kepo sekilas, ternyata banyak pembaca blog ini adalah orang - orang berhijab. Dan ini jadi beban tersendiri bagi saya karena takut mengecewakan mereka atau justru seakan memperbolehkan orang berhijab untuk berpacaran. Jujur, saya sangat kagum dengan orang - orang yang bisa langsung menikah tanpa melalui proses pacaran atau menjaga perasaan mereka dengan orang yang bukan muhrim-nya. Tapi saya sepenuhnya sadar bahwa saya belum bisa seperti itu. Saya juga sadar bahwa apapun pandangan kamu terhadap pacaran, sebenarnya ini semua kembali ke tanggung jawab masing - masing orang untuk menentukan pilihannya.

Tujuan utama saya menceritakan ini semua adalah saya ingin memberikan pandangan lain tentang pembelajaran yang saya dapatkan dari sebuah kesendirian. Karena semakin kesini saya semakin gemas melihat masih banyaknya orang, terutama masyarakat Indonesia, yang sering memandang status single atau 'jomblo' sebagai suatu hal yang menyedihkan atau justru malah dijadikan sebagai bahan ejekkan. Bahkan saya sempat termakan pandangan orang - orang yang menganggap status single ini adalah suatu hal yang humiliating. I used to feel ashamed to admit that I'm single. Padahal dari pengalaman saya menjadi jomblo selama setahun ini banyak memberikan perubahan positif bagi diri dan hidup saya. Mungkin karena itu juga, akhirnya membuat saya enggak bisa menahan lagi untuk menulis pengalaman dan pemikiran saya tentang makna dibalik sebuah status single. Tentang makna dibalik sebuah kata jomblo.



Bisa dibilang dalam kurun waktu kurang-lebih sembilan tahun ini saya hampir selalu memiliki status in a relationship. Walaupun begitu, saya selalu mengira bahwa kondisi tersebut enggak akan mengurangi kemandirian saya, dan akhirnya membuat saya berpikir bahwa bukanlah suatu hal yang sulit untuk kembali menjalani hidup seorang diri. Karena dalam rentang waktu yang cukup panjang tersebut, saya sempat beberapa kali mengalami rasanya kehilangan dan menjalani hari - hari sendirian. Karena sekalipun saya punya pasangan, saya bukan tipe orang yang setiap hari harus bertemu atau setiap beberapa jam sekali harus memberi kabar. Sekalipun saya punya pasangan, saya selalu berusaha untuk enggak terlalu bergantung dengan pasangan saya. Saya masih sering pergi sendirian tanpa ditemani atau diantar oleh pasangan saya; saya enggak pernah meminta pasangan saya untuk membawakan tas atau belanjaan saya jika masih bisa dipegang oleh kedua tangan saya sendiri; saya juga enggak membiarkan pasangan saya untuk membayar apa yang masih bisa saya bayar dengan uang saya sendiri; saya masih bisa menghadapi beberapa kesulitan yang bisa saya atasi seorang diri tanpa bantuan pasangan saya. Sehingga, meskipun saya sempat menangis saat hubungan kami berakhir, saya enggak pernah sampai berlarut - larut dalam kesedihan. Saya enggak pernah merasakan hari - hari dimana saya enggak nafsu makan, atau merasa hidup saya enggak berarti lagi, atau susah move on hingga berbulan - bulan; dan berbagai hal lainnya yang selama ini cukup sering saya lihat dari pengalaman banyak orang ketika mereka kembali sendiri. Tapi ternyata justru setelah saya benar - benar sendirian dalam waktu setahun ini, saya baru bisa merasakan betapa beratnya berjalan seorang diri, dan lebih dari itu, saya akhirnya menyadari betapa besar kondisi ini mengurangi kebahagiaan diri saya. 


Tanpa saya sadari, saya yang pendiam dan biasanya jadi pendengar setia berbagai cerita orang lain; saya bisa menjadi orang yang bawel saat menceritakan berbagai pemikiran dan pengalaman saya, mulai dari hal - hal paling penting hingga enggak penting sekalipun. Karena saya tau bahwa ketika saya mengutarakan semua pemikiran dan perasaan saya, pasangan saya pasti akan mendengarkannya dengan seksama. Atau sekalipun enggak, saya bisa menegur atau menunjukkan kekesalan saya dan memintanya untuk mendengar; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.

Tanpa saya sadari, saya yang tertutup ini bisa pelan - pelan membuka diri. Mulai dari berbagi masalah hidup yang kompleks, memperlihatkan kekurangan dan keunikan saya, melontarkan lame jokes, serta menunjukkan kelebihan diri saya. Karena saya enggak takut di-judge oleh pasangan saya sendiri. Karena saya enggak takut untuk mengecewakan pasangan saya. Karena saya enggak takut terlihat salah di mata pasangan saya. Karena saya tau pasangan saya enggak akan menganggap saya sombong saat saya mempamerkan keahlian saya. Karena saya tau bahwa pasangan saya bisa menerima saya apa adanya; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.

Tanpa saya sadari, saya yang jarang mengajak jalan orang lain, sekalipun teman - teman terdekat saya; bisa dengan tanpa ragu mengajak duluan pasangan saya untuk melakukan berbagai kegiatan menyenangkan di saat saya bosan atau butuh hiburan. Mulai dari hanya sekedar mengobrol di kafe, menonton film terbaru di bioskop, mengunjungi tempat - tempat baru di kota, olahraga bareng, dan kegiatan lainnya. Karena saya enggak perlu merasa sungkan untuk mengajaknya. Karena saya tau bahwa kecil kemungkinan pasangan saya akan menolak untuk menemani saya. Atau sekalipun rencana yang udah dibuat ternyata enggak jadi karena suatu hal, saya bisa marah karena saya sudah menunda rencana lain untuk pergi bersama; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.


Tanpa saya sadari, saya yang jarang menyapa atau menanyakan kabar duluan kepada orang lain, terutama melalui text message dan telefonbisa dengan tanpa ragu menyapa lebih dulu pasangan saya untuk sekedar menanyakan kabarnya hari ini, atau membuka percakapan panjang. Karena saya tau pasti sesibuk apapun pasangan saya, dia enggak akan merasa terganggu dengan telefon atau text dari saya. Sekalipun iya, pasti akan mengatakan sejujurnya dari awal bahwa sedang enggak bisa diganggu, sehingga saya bisa memahaminya dan enggak perlu menunggu balasannya dalam waktu lama tanpa ketakutan bahwa text saya enggak akan dibalas; sehingga saya enggak perlu overthinking dengan balasannya yang singkat dan padat. Atau sekalipun ternyata text saya hanya di-read, saya bisa menyapanya kembali dan menanyakan kenapa text saya enggak dibalas; yang merupakan suatu hal yang sulit saya lakukan ke orang lain.

Tanpa saya sadari, saya kehilangan sosok yang dapat membuat hati saya terasa nyaman setiap kali saya bangun tidur hanya dengan mengetahui bahwa ada seseorang yang menyayangi saya apa adanya, seseorang yang bisa saya ajak melakukan banyak hal tanpa rasa sungkan, seseorang yang bisa mendengarkan berbagai cerita saya. Mungkin karena dari awal menjalin sebuah hubungan, saya berusaha untuk menerima diri pasangan saya; maka tanpa saya sadari, saya juga berusaha untuk membuat pasangan saya menerima diri dan hidup saya apa adanya. Sampai akhirnya tanpa disadari, saya telah membuat pasangan saya menjadi pemeran utama dalam hidup saya. I didn't realise that I made him the source of my happiness. I didn't realise that I gave most of my attention to him.

Sekitar enam bulan pertama saya melewati hari - hari seorang diri, saya sempat merasa iri melihat pasangan - pasangan lain yang bisa bertahan lama hingga menikah, atau justru pasangan - pasangan baru yang memperlihatkan betapa lengkapnya hidup mereka setelah menemukan their other halves. Dan akhirnya membuat saya sedikit menyesali beberapa keputusan saya di masa lalu yang membuat saya kembali menghadapi status ini lagi. Mungkin kalau saya begini, jadinya enggak akan seperti sekarang. Atau kalau saja saya dulu enggak begitu, jadinya enggak akan seperti sekarang. Saya juga sempat termakan ketakutan saya sendiri karena pengaruh omongan orang - orang tentang status single saya ini dikaitkan dengan tingkat pendidikan saya (yang sekarang setiap kali mengingatnya malah membuat saya tertawa karena enggak habis pikir kenapa saya bisa sampai segitu takut dan khawatirnya dengan status saya ini). Mungkin karena terlalu fokus melihat hal - hal yang enggak saya miliki, tanpa disadari saya melupakan apa yang terjadi dalam hidup saya selama itu. Sehingga suatu hari ketika saya melihat kembali hidup saya, sudah banyak perubahan positif bukan hanya dalam diri saya, tetapi juga antara hubungan saya dengan Tuhan, dengan orang - orang terdekat saya, dengan orang - orang di sekitar saya, bahkan juga dengan banyak orang yang belum saya kenal. Di saat yang bersamaan, saya juga baru menyadari bahwa rasa hampa di hati saya yang sempat saya rasakan sebelumnya, semakin lama semakin menghilang. 


Walaupun saya akui bahwa masih banyak hal yang perlu saya tingkatkan untuk menjadi seseorang yang dicintai-Nya, tapi saya bisa merasakan kedekatan hubungan saya dengan Tuhan. Mulai dari ibadah saya yang meningkat dari sebelumnya, rasa sayang saya yang semakin besar, hingga tingkat kepercayaan saya dengan semua rencana-Nya. Sekarang ketika saya melihat kembali apa yang saya lalui di masa lalu saya, yang awalnya sempat saya sesalkan atau malah saya pertanyakan terhadap Tuhan kenapa saya harus melalui jalan tersebut, saat ini justru saya bersyukur karena semua pembelajaran tersebut menambah hal - hal positif dalam diri saya dan bisa membentuk diri saya seperti sekarang. Saya jadi lebih mempercayai bahwa apa yang Tuhan berikan ke saya baik di masa lalu saya maupun di masa sekarang; baik yang diberikan melalui hal - hal yang membuat saya menangis, maupun hal - hal yang membuat saya tertawa bahagia adalah hal yang terbaik bagi saya. Pembelajaran ini juga membuat saya enggak mengkhawatirkan masa depan saya terutama hal- hal yang berada di luar kendali saya, seperti urusan jodoh, karena saya percaya bahwa Tuhan pasti mempertemukan saya dengan orang yang terbaik di waktu yang terbaik. Mungkin tanpa menjadi single, saya masih belum bisa sepenuhnya pasrah dan percaya dengan jalan yang Tuhan berikan dalam hidup saya sejauh ini. Mungkin saya masih belum bisa merasa lega karena masih ada beberapa keputusan yang saya sesali di masa lalu.

Saya juga jadi lebih mempererat hubungan saya dengan beberapa orang yang sebenarnya udah lama menemani saya dan berperan sangat signifikan dalam hidup saya, tapi malah sering saya abaikan sebelumnya. Semenjak saya single, saya jadi lebih terbuka dengan orang tua saya dan komunikasi diantara kami pun meningkat pesat. Bahkan semenjak saya pindah ke Rotterdam, yang paling sering telefon dan videocall sama saya adalah Ayah dan Bunda. Di sisi lain, hubungan saya dengan kedua adik saya juga semakin dekat. Terutama dengan Gladyz, saya jadi jauh lebih sering menghabiskan waktu bersamanya; mulai dari menonton film, jalan - jalan, belanja, serta berbagai hal lainnya yang sebelumnya enggak sesering ini dilakukan bersama. Sementara itu dengan Ali, yang walaupun beberapa tahun ini kami jarang menghabiskan waktu bareng, tapi hubungan kami tetap dekat karena semakin sering berkomunikasi untuk berbagi pendapat tentang beberapa hal lainnya. Kedekatan lainnya yang juga saya rasakan adalah hubungan saya dengan kedua sahabat saya dari kecil, Fia dan Anna. Meskipun kami udah bersahabat 15 tahun dan terus keep in touch, tapi saya bisa bilang bahwa hubungan persahabatan kami enggak pernah sekuat seperti sekarang ini, ketika kami bertiga sama - sama dalam status single. Saya yang awalnya masih tertutup dengan mereka, sekarang malah sering menceritakan hari - hari saya dan bahkan kalau beberapa hari aja enggak komunikasi sama mereka di grup, rasanya ada yang kurang gitu. Mungkin tanpa kembali menjadi single, saya masih belum sepenuhnya menyadari betapa beruntungnya saya memiliki mereka sebagai orang - orang yang selalu menemani saya di saat saya sedang susah, memberikan dukungan serta meningkatkan kepercayaan diri saya.  




Semenjak jadi single, saya juga jadi lebih fokus dengan diri saya. Saya jadi lebih sering mempertanyakan beberapa perubahan yang terjadi dengan diri saya. Saya jadi memperhatikan hal - hal yang selama ini sudah ada di depan mata saya tapi luput dari perhatian saya. Saya jadi lebih sering memikirkan apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan diri saya. Hingga akhirnya sekarang saya jadi lebih banyak memahami tentang diri saya sendiri, dan dengan begitu membuat saya lebih mencintai diri saya dengan segala kelebihan dan kekurangan diri saya, sambil terus berusaha untuk memperbaiki sisi buruk diri saya. Saya juga jadi lebih memperhatikan hal - hal dalam diri saya ketika mencari cara untuk membahagiakan diri saya sendiri. Dimulai dari mengubah beberapa mindset, melakukan hal - hal yang saya suka, serta mengekplore berbagai hal yang sebelumnya enggak pernah saya sadari bisa mempengaruhi kebahagiaan diri saya. Mungkin kalau saya enggak melewati hari - hari saya sendirian, sampai sekarang saya masih belum menyadari sepenuhnya kelebihan dan kekurangan diri saya. Mungkin saya belum bisa mencintai dan menerima diri saya sebesar yang saya rasakan sekarang. Mungkin enggak akan ada #ROH yang awalnya muncul sebagai salah satu cara untuk menutupi kekosongan hati saya dan membuat diri saya bahagia

Dengan menjadi single, saya juga mendapatkan banyak perhatian dan dukungan lebih dari yang saya kira sebelumnya. Saya sadar bahwa semenjak jadi single, saya lebih sering menulis dan berbagi hal lebih banyak di blog saya tentang beberapa bagian kehidupan, pengalaman saya; dari hal - hal signifikan sampai enggak penting. Tapi itu semua awalnya hanya sebagai salah satu cara untuk mengeluarkan beberapa bagian isi hati dan pikiran saya yang sebelumnya hanya saya ceritakan ke pasangan saya. Hal - hal yang saya masih merasa segan untuk saya ceritakan ke orang lain sekalipun ke orang - orang terdekat saya, karena saya merasa pikiran saya ini enggak cukup menarik untuk disimak oleh mereka. Jadi akhirnya saya menulisnya di blog, yang selama ini udah saya anggap sebagai diary sekaligus tempat saya membuang berbagai hal yang mengganjal di pikiran dan hati saya tanpa membuat saya khawatir dengan response yang diberikan oleh orang lain. Namun di luar dugaan saya, hal - hal yang saya kira enggak akan menarik bagi orang - orang disekitar saya, ternyata malah menarik bagi pembaca blog saya. Semakin kesini semakin banyak pembaca blog saya yang memberikan dukungan dan perhatian mereka. Mungkin kalau saya enggak single, enggak akan ada keberanian untuk menuangkan berbagai perasaan dan pemikiran saya disini. Mungkin enggak akan ada tulisan - tulisan yang ternyata, di luar ekspektasi saya, dapat menginspirasi banyak orang karena mereka juga mengalami hal yang sama, atau justru bisa membuat mereka melihat sisi yang berbeda dari apa yang mereka pahami selama ini. 


Dengan menyadari semua hal tersebut, sekarang saya udah enggak merasa malu lagi dengan status single ini, enggak juga merasa iri melihat foto pasangan lain, apalagi membawa pusing komentar orang lain yang mencoba untuk menasehati saya tanpa tau apa - apa tentang yang saya jalani saat ini. Saya justru merasa bahwa saya perlu memanfaatkan waktu ini untuk mendekatkan hubungan saya dengan Tuhan, mencintai orang - orang terdekat saya dan membagi inspirasi dengan banyak orang. Untuk mengeksplorasi potensi diri saya dan menjadikan diri saya lebih baik lagi. Karena akan banyak hal yang bisa saya lakukan sekarang namun belum tentu bisa sesering ini saya lakukan lagi ketika nanti sudah tiba waktunya untuk menjalin komitmen dan kehidupan baru di tahapan selanjutnya.

Saya enggak bilang bahwa saya mau terus berstatus single, karena saya tetap ingin merasakan kembali bagaimana rasanya ada seseorang dalam hidup saya yang bisa membuat saya lebih bersemangat dan mengisi sebuah tempat di hati saya yang bahkan enggak bisa diisi oleh orang - orang yang saya sayangi seperti keluarga dan sahabat saya. Tapi disini saya lebih ingin menekankan bahwa, status single itu juga bukan suatu hal yang menyedihkan atau memalukan kok. Malah di beberapa kasus, seperti diri saya ini, menjalani hidup seorang diri itu perlu. Saya merasa sangat bersyukur karena dipertemukan kembali dengan hari - hari saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri, tanpa ada seseorang yang mengalihkan dunia saya dan membuat saya melupakan banyak hal penting lainnya dalam hidup saya. Justru saya merasa lebih sedih saat melihat orang - orang yang segitunya takut sendirian atau malu dengan status ini, sehingga mereka lebih memilih untuk bersama dengan orang yang enggak sesuai dengan hati dan kepribadian mereka. Orang - orang yang rela untuk merendahkan harga diri mereka demi ada yang menemani mereka, atau orang - orang yang rela menghabiskan sisa hidupnya untuk membohongi diri mereka sendiri. Oh c'mon, please love yourself. Because no matter who you are, you are worth it. 

24 comments:

  1. Setuju mbak, kalo dg jadi single bisa menjadikan diri semakin baik, kenapa harus malu?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa mbaa. enggak ada alasan buat malu yaaa :D

      Delete
  2. Ozuuu, semakin kagum dengan cara berpikir kamu.

    "Tapi itu semua awalnya hanya sebagai salah satu cara untuk mengeluarkan beberapa bagian isi hati dan pikiran saya yang sebelumnya hanya saya ceritakan ke pasangan saya. Hal - hal yang saya masih merasa segan untuk saya ceritakan ke orang lain sekalipun ke orang - orang terdekat saya, karena saya merasa pikiran saya ini enggak cukup menarik untuk disimak oleh mereka."

    :)

    *mau nulis komen banyak tapi ntah kenapa speechless

    ReplyDelete
  3. Terima kasih Nazura utk artikelnya yg sangat inspiratif. Menurut aku (yg juga masih single), masa-masa sendiri itu adalah masa menata diri menjadi lebih baik. Mendekatkan hubungan dengan Tuhan, keluarga, dan teman-teman seperti yang kamu tuliskan itu. Aku pribadi bersyukur dengan status single yg aku jalani saat ini. Aku bisa mengekplor banyak hal dan berkenalan dengan orang-orang baru. Jodoh itu menurut aku rahasia Tuhan. Dia pasti akan mengirimkan jodoh menurut waktuNya, bukan waktu kita. Ditunggu artikel lainnya yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba Ignassss! aku juga enggak pernah merasa bersyukur seperti sekarang karena jadi single lady. malah semangat gitu karena banyak hal yang aku pengen lakukan sekarang, dan mungkin enggak bisa aku lakukan lagi saat udah bertemu jodohku hehe. mari menata diri menjadi lebih baik mbaa :D

      Delete
  4. Nazu jahat!!!!!
    Post ini bikin mewek, tapi bikin aku bisa menulis post sepanjang ini hanya dalam waktu sejam: http://theprimadita.blogspot.co.id/2016/06/refleksiramadhan-how-does-it-feels.html
    Anyway, tadinya aku berharap post-nya bisa positif, tapi ternyata...ah, sudahlah :))

    Have a nice day!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prima.... aku ga tau mesti ngomong apa, terlalu speechless saat baca postingan kamu.. makasih yaa Prim, sejujurnya aku kagum sama kamu sejak baca artikel kamu di Kamantara dan semakin semakin kagum sejak obrolan kita lewat email. tetap semangat buat meraih mimpi - mimpi kamu yaaa :D

      Delete
  5. Halo kak Nazura, sebelumnya thanks for sharing your story. Ini pertama kalinya saya baca blogpost kakak yg saya tau dari igpost kakak (yes, I'm one of your ig follower). Apa yg saya rasakan selama saya baca blogspot ini cuma: "ih iya banget" "bener bgt nih". Sama seperti yg kakak bilang bahwa apa yg kita pikir ga penting kok malah bisa-bisanya menginspirasi orang lain. Saya sendiri juga amazed sama the power of words. Bagaimana kekuatan kata-kata dan tulisan yg ditulis seseorang bisa mengubah hidup seseorang dan kadang membaca tulisan org lain bisa bikin kita merasa bahwa kita nggak sendirian. So... keep sharing ya kak. Tetaplah menulis, makasih sudah berbagi unek-unek dan membuat orang lain merasa tidak sendiri (saya maksudnya. lol).
    Salam!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Virga! makasih juga udah baca blog aku dan komentar disini. Dengan baca komentar kamu ini aku jadi merasa lebih lega karena tau bahwa postingan ini enggak hanya sekedar curcol aku doang hehe. Dan yaa, tentunya merasa enggak sendirian juga, seperti yang kamu bilang :D Semangat buat kamu juga yaa!

      Delete
  6. Love it! Semoga dan bertemu your other half Ozu, lebih enak lagi langsung nikah:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Itu memang harapanku Sandra, semoga orang berikutnya yang datang adalah benar - benar jodohku hehe. Makasih yaa buat doanya :')

      Delete
  7. Kak ozuu, semangat selalu di segala kondisi yaaah! :)

    Insyallah kondisi apapun kita, single, pacaran atau menikah itu ya ada plus minusnya masing-masing. Dinikmati aja :))

    Btw buknya udah datang, suka sekali yeay!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi makasihh gheaaa! aku selalu bersemangat kok insya Allah :D

      betul banget kata kamu, semua kondisi selalu ada kurang dan lebihnyaa. jadi dinikmati aja apapun kondisi kita yaa :')

      aahh senang sekali, makasih ghee <3

      Delete
  8. "Oh c'mon, please love yourself. Because no matter who you are, you are worth it. "

    Kaaaak <3 <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. Neriii aku nulis ini juga termotivasi karena baca postingan blog kamu :')

      Delete
  9. Hai Kak Ozu! Jujur, aku suka banget baca postingan kakak. Dan post yang satu ini emang paling ngena. Aku sendiri baru mau masuk 20 tahun, tapi post ini emang related banget sama hidup aku sekarang. Tetap inspiring as always ya kak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Alia! Makasih yaa udah baca blog aku dan ngasih tau aku tentang pendapat kamu. I'm really pleased to know that! :')

      Delete
  10. Nemu blog ini dari Kamantara terus ke IG kamu lalu nemu blog ini. Sungguh suatu bacaan yang menyenangkan. Senang rasanya ada yang menulis dengan pikiran terbuka seperti ini. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbaaa, makasih yaa udah mampir ke blog aku. senang juga baca komentarnya mba hehe :)

      Delete
  11. Ozu..., post ini berhasil bikin aku nangis, beneran berkaca-kaca banget.
    I feel you banget sama tulisan ini, soalnya setahun ini aku juga sama banget.
    Dan kembali jadi single itu bukan perkara gampang dan remeh temeh. Perjuangannya jua luar biasa banget sampai saat ini :").
    Dan hampir semua point yg di tulis juga aku rasain betul.
    Akupun ngerasa jauh lebih dekat sama yang menciptakan, dan orangtua. Setiap ada kesulitan dan senang, ngadunya cuma kedua itu aja sekarang :").
    yang paling penting, pada akhirnya kita bisa lebih mencintai dan bisa memeluk diri sendiri dengan segala kurang lebihnya :).
    Honestly, kalau ozu udah lulus dan back to Indo, pengen banget ada meet and greet dan minta tanda tangannya secara langsung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo desty. makasih yaa buat semua komen kamu ini. iyaa sekarang aku beneran lega karena ternyata single itu bukan hal yang buruk, malah bisa jadi suatu hal yang bagus dan penting karena jadi waktu dimana kita bisa banyak mengintrospeksi diri dan hidup kita supaya lebih baik lagi ke depannya.

      hihii thank youu desty! aku jg akan senang pastinyaa bisa nambah teman baru... aamiin yaa, semoga nanti kita bisa ketemu di indonesia :D

      Delete