October 10, 2016

Pelajaran Seperempat Abad #3

Dua hari yang lalu saya sempat bertemu dengan salah satu teman lama. Saat itu, topik pembicaraan kami tiba - tiba mengarah ke seputar kopi. Awalnya sih hanya sebatas karena kesamaan pendapat kami bahwa kopi di Belanda memang lebih enak. Jujur, saya awalnya bukan pecinta kopi dan harus selalu memasukkan gula ke kopi saya. Tapi semenjak tinggal disini, bukan hanya tingkat konsumsi kopi saya jadi jauh lebih tinggi, tetapi juga saya hampir enggak pernah mencampurnya dengan gula. Tapi itu bukan inti yang dari pembicaraan tersebut yang ingin saya jelaskan disini. Ha! Justru, dari kopi tersebut akhirnya kami sampai ke suatu topik lainnya. Tentang pencitraan dan gengsi. Atau dengan kata lain, keduanya terkait dengan satu hal yang sama: memenuhi standar sosial di masyarakat supaya bisa diterima dengan baik.


Jujur, saya pun sempat mengalami masa dimana saya sempat terjebak dengan kedua hal tersebut. Masa - masa dimana saya melakukan beberapa hal bodoh hanya untuk diterima oleh lingkungan dan kalangan tertentu; hanya untuk memperlihatkan bahwa saya juga memiliki kapabilitas yang memenuhi standar sosial tertentu. Sebenarnya enggak ada yang salah sih, malah terlihat sangat manusiawi; that we all craving for social acceptance, or maybe, we all need to be socially accepted. Siapa sih yang enggak mau diterima dengan baik oleh orang dan lingkungan di sekitar kita? Tapi masalahnya, seringkali tanpa disadari, ada saat dimana saking pengennya diterima oleh lingkungan dan kelompok tertentu, membuat saya melakukan hal - hal yang sebenarnya saya lakukan bukan karena keinginan diri saya sendiri, melainkan untuk diterima oleh orang lain. Bisa dibilang saya melakukannya hanya untuk menciptakan impresi, pencitraan, dan gengsi. Saya sempat melewati masa - masa dimana saya rela membeli barang yang over-budget hanya untuk brand (dan gengsi) dibalik brand tersebut. Mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan di restoran, kafe, dan tempat nongkrong paling ngehits lainnya. Mencoba untuk bergabung bersama 'the it people' yang sebenarnya enggak membuat saya nyaman dan enggak tertarik dengan topik pembicaraan mereka. Melakukan hal - hal yang terlihat ideal/bagus/baik yang sebenarnya enggak segitunya sering dilakukan tapi tetap di-upload ke media sosial supaya terlihat oke. Mengikuti trend terbaru agar bisa 'nimbrung' dan enggak ketinggalan dengan kebanyakan orang. Memperlihatkan hal - hal yang sebenarnya bukan sesuai dengan diri saya, kapabilitas, dan kondisi saya. Dan semua itu saya lakukan hanya untuk mendapatkan pengakuan, popularitas, dan pujian dari orang lain.


And I had lived my life for other people's acceptance and expectation without even realising it. Tapi di usia ini saya mencapai titik dimana saya sudah yakin dengan jawaban dari berbagai pertanyaan - pertanyaan yang beberapa tahun terakhir ini mengganggu pikiran saya. Saya semakin yakin bahwa lebih baik mengecewakan orang lain dari awal ketimbang harus menanggung beban untuk terus mengikuti ekspektasi mereka dan mengecewakan mereka di akhir. Saya semakin yakin bahwa semua itu pada akhirnya hanya akan membebankan diri kita sendiri. Saya semakin mencoba untuk selalu enggak peduli dalam memenuhi standar sosial yang berlaku di masyarakat hanya agar saya bisa diterima dan disukai oleh mereka. Buat apa? Kenapa? Iya, di usia ini saya mencapai titik dimana saya mempertanyakan hal - hal yang membentuk pikiran kebanyakan orang sehingga mereka terlihat menarik dan lebih baik dengan melakukan hal - hal tersebut. Kenapa kita dibuat seakan melihat bahwa semakin mahal harga suatu barang maka semakin tinggi juga kualitas diri kita? Kenapa dengan menggunakan brand tertentu bisa membuat image seseorang lebih baik dari yang lain? Kenapa dengan memperlihatkan bahwa kita dikelilingi oleh banyak orang atau berteman kelompok sosial tertentu bisa membuat kita terlihat lebih baik? Kenapa dengan memiliki jumlah followers dan like yang banyak membuat seakan kita terlihat lebih disukai? Kenapa kita dibuat untuk selalu mementingkan penampilan fisik sesuai standar yang berlaku - kurus, tinggi, putih, mulus, mancung, dst? Kenapa kita selalu melakukan hal - hal yang membuat kita bersikeras hanya untuk diterima dan dianggap 'lebih' oleh orang lain? Kenapa kita dibuat seakan kualitas diri kita dinilai dari seberapa banyak pujian, komentar, jempol yang didapat dari orang lain? Kenapa kita dibuat seakan lebih baik berbohong dengan diri sendiri untuk mengikuti standar yang ada, dibandingkan menjadi jujur dengan melakukan apa yang membuat kita nyaman dan menjadi diri sendiri?


Dan saya bersyukur karena pada akhirnya saya sudah mencapai titik dimana tujuan utama saya saat melakukan sesuatu bukanlah untuk impresi dan pencitraaan. Bukan juga untuk mendapatkan pengakuan dan pujian. Tapi saya melakukannya untuk diri saya sendiri. Saya bersyukur pada akhirnya saya mencapai titik dimana ketika saya membeli barang branded karena memang untuk kebutuhan dan kepuasan diri saya; bukan untuk dipamerkan. Ketika saya menunjukkan foto bersama teman - teman saya, itu karena saya tersentuh dengan kehadiran mereka; bukan karena saya ingin pamer bahwa saya punya banyak teman. Ketika saya menunjukkan sesuatu hal yang terlihat 'membanggakan', itu bukan untuk memberikan impresi bahwa saya hebat atau lebih baik dari orang lain, bukan juga untuk mendapatkan pujian; tapi memang karena saya saat itu merasa sangat senang hingga saya ingin meluapkan kebahagiaan saya tersebut. Ketika saya mengunjungi restoran/kafe/tempat lainnya bukan untuk menunjukkan bahwa saya anak gaul yang paling tau tempat - tempat ngehits di kota; tapi karena memang saya menyukai dan merekomendasikan tempat - tempat tersebut.  Di usia ini saya semakin disadarkan bahwa apa yang saya lakukan bukan untuk memberikan impresi; bukan untuk agar saya diterima oleh orang lain; tapi karena saya memang melakukannya dan itu karena untuk diri saya sendiri.


Karena sebenarnya dengan hanya mempertahankan gengsi dan memberikan impresi yang enggak sesuai dengan kenyataan, pada akhirnya hanya akan membebankan diri kita sendiri. Pada akhirnya hanya akan membuat orang lain lebih kecewa ketika mengetahui fakta dibalik impresi dan gengsi tersebut. Kalau seandainya apa yang kita lakukan atau ada hal - hal dari diri kita yang belum bisa memberikan inspirasi ke orang lain, ya enggak usah dipaksain untuk membuatnya seakan seperti inspirasi padahal kenyataannya hanya memberikan impresi. Stop trying so hard to impress other people. Karena sekalipun kita udah diterima oleh mereka, pada ujungnya itu enggak akan banyak memberikan pengaruh dalam hidup kita. Karena mereka hanya menerima sisi baik kita dan selalu berharap untuk melihat diri kita sesuai dengan ekspektasi mereka. Dan pada akhirnya, semua itu enggak akan memberi manfaat apapun ke diri kita selain beban untuk terus memperlihatkan apa yang orang lain harapkan dari impresi yang kita ciptakan tersebut. 

6 comments:

  1. Tks Nazura untuk artikelnya. Hidup hanya satu kali. Apa yang kita anggap baik untuk dilakukan ternyata di mata orang lain belum tentu baik. Melelahkan rasanya hidup mengikuti standar yang ditetapkan masyarakat. Seperti aku yang lebih suka ke mana-mana sendiri tapi aku dianggap aneh. Padahal saat pergi ke suatu tempat seorang diri di situlah kesempatan aku bertemu dan berkenalan dengan orang baru. Di situlah saatnya aku mendapatkan pengalaman yang lebih ketimbang berjalan beramai-ramai yang membuat kita fokus kepada teman. Semangatt Nazura

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi mba Ignas.. Iyaa bener banget, life is too short to be lived for someone else's opinion. Semangat terus juga buat Mba yaa, dan tentunya enjoy the solo traveling ;)

      Delete
  2. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    I like this blog.
    judi poker

    ReplyDelete
  3. Kak Ozu :') jalan menuju penerimaan diri emang nggak begitu saja mudahnya ya. Belakangan aku juga sering menanyakan hal itu dan cukup happy saat bisa lebih cuek dengan pandangan dan penerimaan orang. Oya, aku pun sering kumpul di kelompok yang nggak sejalan dengan prinsipku. But, itu aku jadikan pelajaran aja dan pengingat. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyess bener banget Erny. Memang susah yaa buat bisa menerima kondisi sosial di lingkungan kita, apalagi yang enggak sesuai sama kita. But maybe life only works in that way. Kita harus terus bisa menerima hal - hal sekalipun yang bertentangan dengan kita :)

      Delete
  4. Di usia-usia awal dua puluhan seperti yang aku rasain saat ini, jujur bacain tulisan-tulisan tentang Pelajaran Seperempat Abad dari Kak Ozu memberi banyak banget insight positif buat aku yang bahkan emang masih sangat mencari tahu tentang apa yang bener-bener aku mau.
    Terkadang emang bingungin banget saat aku udah nemuin titik nyaman berkumpul dengan mereka yang punya satu minat yang sama, tapi tiba-tiba di suatu kesempatan lain aku denger orang-orang teriak bilang "escape from your comfort zone" yang ngebuat aku jadi insecure ttg apa selama ini salah bergaul sama yg sejenis aja? Ya walau aku tau konteksnya adalah untuk ngembangin diri dan memperluas wawasan, which is good. Tapi melalui tulisan Kak Ozu ini aku jadi kayak lebih dapet insight kalau segimanapun ekspektasi sosial dan saran org lain berusaha untuk 'memaksa' aku buat jadi apa yg mereka mau, aku tetep harus inget kalau sebenernya aku juga harus tentuin target/tujuan aku sendiri. Kadang, kata-kata "Jangan Pernah Merasa Puas" justru menurut aku bikin jadi bikin gak nyaman jalanin hidup dan susah bersyukur hehe.
    Thank you Kak Ozu, insight nya. :)

    ReplyDelete