November 05, 2016

#ROH 48: Gardening

Jadi salah satu hal pertama yang saya cari dari awal pertama kali pindah ke Rotterdam adalah kesempatan untuk volunteering, baik di kampus maupun di luar kampus. Tapi sayangnya saya enggak menemukan volunteering/non-profit organisation di kampus, seperti yang dulu sering saya lakukan di Bournemouth University. Selain itu, kesempatan volunteering di luar kampus pun hanya ada untuk yang full-time, alias enggak tepat untuk kondisi saya sebagai mahasiswa disini. Nah, di saat saya udah menyerah, justru saya enggak sengaja menemukan lowongan volunteer untuk Dakakker, salah satu komunitas berkebun di Rotterdam. Begitu melihat informasinya, ternyata pas banget dengan apa yang saya cari, yaitu kegiatannya hanya berlangsung seminggu sekali, setiap hari Jumat dari jam 09.00 - 12.00. Langsung aja tanpa ragu saya mengajukan aplikasi untuk relawan di komunitas ini dan resmi bergabung sejak bulan Maret lalu. 


Photo source: Dakakker



Bagi saya yang paling menarik dari Dakakker ini adalah kegiatan berkebunnya yang 'unik', yaitu dilakukan di sebuah rooftop dari sebuah gedung yang ditempati oleh berbagai komunitas kreatif di Rotterdam. Dengan kegiatan yang dilakukan di rooftop ini membuat Dakakker menjadi satu - satunya komunitas berkebun di Rotterdam dan salah satu dari dua komunitas berkebun di Eropa yang menginisiasikan rooftop gardening ini.  Menariknya lagi, konsep berkebun yang dilakukan ini juga memiliki peranan yang cukup penting di Rotterdam. Bukan hanya sekedar memanfaatan lahan - lahan kosong di daerah yang dulunya sempat menjadi 'bagian yang terlupakan' di kota ini, tetapi hasil panen yang kami lakukan selalu dijual ke restoran dan kafe yang berada di sekitar bangunan ini. Selain itu, setiap kali musim panas, Dakakker juga merupakan salah satu komunitas yang membuka kesempatan bagi para pengunjung maupun masyarakat lokal untuk bisa merasakan ruang terbuka publik yang ada di beberapa gedung di Rotterdam. Dan bagi saya yang paling menyenangkan dari kegiatan berkebun ini bukan hanya menjadi ajang untuk 'menyicil' belajar tentang berkebun sebelum nantinya saya punya kebun sendiri, tetapi juga waktu dimana saya bisa melepas penat setelah hampir seminggu berkutat dengan pekerjaan saya. Mulai dari hanya sekedar mencabut tanaman dan rumput liar, menyiram tanaman, menanam bibit dan benih baru, hingga mengambil hasil panen; saya selalu mendapatkan ilmu baru setiap kali saya datang. Karena memang enggak semudah itu loh untuk bisa melakukan setiap kegiatan tersebut dalam prakteknya. Hehe. 

Photo source: Dakakker




Komunitas ini juga bukan hanya membuat saya belajar tentang berkebun, tetapi juga melatih bahasa Belanda saya. Awalnya saya cukup merasa 'aneh' karena diantara para relawan yang lainnya, saya adalah satu - satunya yang bukan Dutch. Jadi meskipun saya dan mereka tetap berkomunikasi dalam bahasa Inggris, pasti ada saatnya mereka semua berbicara dalam Dutch. Tapi sejujurnya bagi saya sendiri ini merupakan sebuah 'kesempatan' untuk terus membiasakan diri untuk mendengar Dutch dan malah terkadang mereka membantu saya untuk belajar kosakata baru. Bisa dibilang komunitas ini adalah tempat saya paling banyak bertemu dan berteman dengan orang - orang lokal, yang mana enggak saya temukan ketika di tempat lain, termasuk apartemen dan kampus saya.  Jadi setelah beberapa kali pertemuan, rasa awkward tersebut menghilang dan tergantikan dengan perasaan homey. 

Selain itu, dengan bertemu berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda, tentunya selalu membuka pikiran saya. Mulai dari laki - laki yang mengaku dirinya sebagai gay dan ceritanya tentang bagaimana tekanan yang ia hadapi dan proses yang ia lalui hingga akhirnya bisa menerima dan mencintai dirinya sepenuhnya. Lalu ada sepasang suami istri yang sudah berusia enam puluh, tapi mereka sangat menyukai bersepeda dan bahkan mereka akhirnya memutuskan menjual mobil mereka dan memilih untuk mengendarai sepeda, bahkan hingga ke Roma dan Barcelona! Belum lagi tentang perjalanan seorang perempuan selama enam bulan ke beberapa negara di Asia termasuk Indonesia yang baru diselesaikannya pada awal tahun ini, serta masih banyak cerita - cerita menarik lainnya yang saya dapatkan dari orang - orang yang saya temui di komunitas ini. 


Photo source: Dakakker




Sayangnya semakin kesini saya pun udah mulai kesulitan untuk datang karena pekerjaan yang semakin sibuk. Ditambah lagi sejak pertengahan bulan ini kegiatan berkebun akan diberhentikan sementara waktu karena saat ini udah mulai memasuki musim dingin, dan akan dilanjutkan kembali di bulan Maret nanti ketika mulai musim semi. Pasti bakal kangen banget sih! :')

2 comments:

  1. Asyik banget sih Kak Ozu. Itu berkebun aja pakaiannya pada rapi kek mau ke Mall ya haha. Kalau di sini paling sambil dasteran haha. Nggak dink. BTW, aku juga punya temen di Belanda yang curhat ttg adeknya yg Gay dan perjalanannya menerima keputusan sang adek :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha masa sih, perasaan sama aja pakaiannya sama dengan komunitas berkebun di Indonesia.. tapi kalo tukang kebun sih emang beda lagi yaa :)) iyaa meskipun Belanda salah satu negara yang cukup terbuka soal beginian, tapi tetap aja masih cukup banyak kelompok masyarakat yang belum bisa menerima kaum gay.. sedih juga pas denger ceritanya itu :(

      Delete