June 26, 2017

#ROH 67 : Kampung

Di tengah - tengah tumpukkan rasa bahagia yang saya dapatkan semenjak pulang ke Indonesia satu setengah bulan yang lalu, ada satu hal yang udah lama saya rindukan, yaitu berkunjung ke kampung.  Mungkin karena dari kecil hingga sekarang saya selalu tinggal di kota besar dan enggak pernah merasakan 'mudik' atau punya 'kampung halaman', jadi main - main ke kampung itu rasanya selalu menyenangkan. Beruntung, dari jamannya duduk di bangku sekolah dasar hingga kerja, pasti selalu ada aja kegiatan yang membuat saya berkunjung ke berbagai kampung di Indonesia. Jadi bisa kebayang kan semenjak satu setengah tahun terakhir ini ketika saya sama sekali enggak ada kesempatan mengunjungi kampung, rasanya seneng banget bisa berkunjung lagi. Meski awalnya saya agak enggak yakin akan menyukai kehidupan kampung kota seperti saya menyukai kampung di pedesaan, namun nyatanya kunjungan saya ke beberapa kampung kota kali ini sama - sama menyadarkan saya kembali dengan makna kesederhanaan. Sederhana secara materi, bersikap, maupun dalam melangkah. Berbeda sekali dari kehidupan kota yang apa - apa serba konsumtif, terburu - buru, dan individualis. 






Memang, kampung kota yang saya maksud termasuk kampung - kampung yang sudah mengalami perubahan positif, baik secara fisik lingkungan maupun mental sosial masyarakat yang menempatinya. Saya paham bahwa kampung - kampung yang saya kunjungi ini masih memberikan pemandangan yang enak dilihat oleh mata, entah itu berupa karya seni yang menarik, jalanan kampung yang di beberapa bagiannya terlihat bersih dan tertata rapih, hingga senyum yang diberikan oleh warga setempat kepada orang asing yang tiba - tiba berjalan menyusuri dan mengamati kondisi tempat tinggal mereka tersebut. Tapi jujur, terlepas dari rasa bangga atas semangat dan kreativitas mereka yang nampak dari beberapa sudut di ruang publik kampung yang lebih tertata untuk mengganti kesan kumuh, masih banyak rumah yang tidak layak huni dengan infrastruktur dasar yang masih belum bisa dikatakan memadai. Salah satu yang paling prihatin adalah ketika saya mengunjungi salah satu kampung dimana terdapat sebuah gang yang setiap rumah-nya memiliki ukuran rata - rata 25 meter persegi dan dihuni oleh lebih 3 KK (Kepala Keluarga) dengan total jiwa per rumah bisa mencapai 10 hingga 12 orang!






Namun, apa yang saya lihat adalah wajah - wajah yang masih mampu tertawa, menikmati hidup mereka yang tentu aja enggak semua orang bisa menikmatinya. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat anak - anak disana yang terlihat asik mengobrol dan bermain tanpa menggunakan peralatan elektronik. Mereka menggunakan buku, lapangan bola, ular tangga, layang - layang hingga permainan tradisional lainnya untuk bermain. Ketika melihat beberapa warga asik mengobrol dan menikmati waktu santai mereka di ruang publik kampung yang enggak lain adalah bangku kayu panjang di sudut - sudut gang kampung. Ketika melihat hasil kerja kolektif warga untuk terus menjadikan kampung mereka menjadi tempat yang lebih layak huni dan menyenangkan, meski mereka sepenuhnya sadar bahwa harus melalui perjuangan yang sangat besar dan jalan yang panjang untuk bisa mencapai standar hidup yang layak. Ketika melihat wajah - wajah dan mendengar kata - kata penuh harapan agar apa yang saya lakukan ini bisa membantu mereka untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik. Kebahagiaan yang saya rasakan itu bukan hanya membuat saya senang, tapi juga membuat saya lebih bersyukur dengan segala kehidupan yang saya miliki saat ini, serta menambah asupan semangat; bahwa di tengah - tengah kerisuhan yang terjadi di negara ini, masih banyak masyarakat yang optimis dan berpikiran positif terhadap tanah air mereka. 





2 comments:

  1. Kak Ozu, you nailed it! Nggak paham lagi deh perkampungan Code bisa secakep ini fotonya di tanganmu! Nanti Agustus kalau kita ketemu ajakin aku hunting-hunting yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Ernyy! yukkk Insya Allah bulan depan ketemu yaa :D

      Delete