January 01, 2018

2017: A Year of Surprises

Kalau tahun 2016 lebih banyak mengajarkan saya bagaimana rasanya naik roller coaster, tahun ini saya seperti berjalan di jalanan yang flat, tapi sesekali melewati batu kerikil. Terkadang juga menemukan jalanan dengan batu yang cukup besar hingga saya sempat beberapa kali tersandung. Namun untungnya tidak sampai terjatuh. Terlepas dari itu, hal yang paling disyukuri adalah bahwa di awal dan akhir tahun, saya diberi kejutan manis yang tidak terduga. Kalau digambar, bentuknya seperti huruf U kali ya. Tinggi di ujung dan ujung, tapi rendah di tengah - tengah. Dimulai dengan Januari dimana saya mendapatkan rezeki untuk membawa Bunda jalan - jalan ke beberapa kota yang belum pernah dikunjungi oleh beliau. Dan ternyata semua kota tersebut sangat di luar ekspektasi kami dan berujung menjadi sebuah perjalanan yang bukan hanya meninggalkan kenangan manis, serta berhasil memberikan kekuatan ke saya, tetapi juga seolah - olah menjadi awal dari kejutan - kejutan manis lainnya. Seperti Februari yang juga menjadi salah satu highlight tahun ini, yaitu ketika seseorang yang selama beberapa tahun ini hilang-muncul dalam hidup saya akhirnya enggak menghilang lagi karena kali ini kami memilih untuk mencoba memulai kembali.

Maret dan April juga terasa menyenangkan karena ada beberapa orang baru di hidup saya yang membuat saya merasa semakin nyaman di Rotterdam. Meski di saat yang bersamaan, ada juga orang - orang yang membuat saya enggak nyaman. Cuma yaa yang namanya hidup, pasti selalu begitu kan? Selalu ada kurang dan lebihnya agar tetap seimbang. Yang jelas, saya udah menantikan bulan Mei karena akhirnya saya kembali ke Indonesia! Bukan hanya temu kangen dengan keluarga, Ican, sahabat, dan beberapa teman lama yang udah lama banget enggak ketemu; selama empat bulan disana saya juga cukup banyak berkenalan dengan orang - orang baru. Semuanya terasa menyenangkan sesuai dengan yang diharapkan hingga di pertengahan tahun, ketika semesta kembali memberikan kejutan lain. Sayangnya kali ini bukan sebuah kejutan yang manis. Saya kembali berhadapan dengan perasaan cemas dan takut sampai ke tahap yang melebihi kapasitas saya. Kali itu menyadarkan saya  bahwa apa yang saya rasakan setahun sebelumnya ketika di Rotterdam, ternyata juga saya hadapi di tempat dimana hampir tidak ada jarak yang memisahkan antara saya dengan orang - orang terdekat saya. Dan yang lebih enggak disangka, ternyata obat yang bisa mengembalikan ketenangan saya adalah dengan kembali ke Rotterdam.


Akhir September, perlahan segalanya mulai terasa ringan kembali, mungkin karena satu persatu urusan mulai teratasi. Terlepas dari kondisi yang lebih baik dari sebulan sebelumnya, sebenarnya jalan yang saya lalui masih sama. Ada satu minggu dimana saya bisa fokus melakukan riset saya tanpa terganggu oleh perasaan dan pikiran saya sendiri. Tapi ada juga satu minggu dimana yang ingin saya lakukan hanyalah berada di atas tempat tidur dengan berbalutkan selimut sambil ditemani drama Korea atau buku untuk mengalihkan diri yang enggak menentu. Masih ada pagi dimana begitu bangun tidur rasanya badan enggak enak banget. Namun ada juga pagi dimana saya lupa dengan apa yang saya rasakan ketika bangun tidur karena terlalu fokus dengan riset saya. Kondisi tersebut terus berlangsung hingga pertengahan November. Kali ini, semesta kembali memberi saya kejutan. Lagi - lagi, yang saya dapatkan bukanlah kejutan manis. Ada satu rencana di bulan ini yang udah saya nantikan, namun ternyata berujung kecewa. Saking kecewanya, saya merasa seperti ditampar. Mungkin terdengar berlebihan, tapi saya enggak menemukan kata - kata lain yang lebih tepat untuk merepresentasikan apa yang saya rasakan selama bulan November.

I became overwhelmed by the disappointment from harbouring too much expectation towards certain people. Kali ini saya enggak menangis. I wasn't even be able to feel any anger or sadness. Yang ada hanyalah sekujur badan yang terasa lemas enggak karuan, dan begitu juga dengan emosi saya. Lebih sensitif dari biasanya dan mudah sekali cranky bahkan dengan hal - hal kecil sekalipun. Enggak jarang otak saya juga lebih didominasi oleh pikiran negatif yang pada akhirnya membawa kepedihan yang sama dengan apa yang saya rasakan setahun sebelumnya. Dan disini jugalah, muncul kejutan lainnya. Rupanya, mungkin karena saya terlalu jenuh dengan kondisi yang stagnan ini, ada sisi lain dalam diri saya yang memberontak. Memang dari pengalaman saya sebelumnya, jika terlalu lama dalam kejenuhan, ada saat dimana akhirnya akal sehat saya kembali muncul. Lalu saya mulai mempertanyakan beberapa hal terkait perasaan saya, yang udah jelas enggak bisa masuk di akal sehat saya. Di saat itulah saya akhirnya berbalik arah sambil mengucap, 'lo enggak bisa kaya gini terus, zu. ini udah enggak masuk akal'. Rasanya seperti abis patah hati dan dikecewakan berkali - kali dengan seseorang yang kita sayang hingga akhirnya tersadar bahwa orang itu enggak worth it buat kita, apalagi untuk ditangisi terus menerus. Iya, rasanya persis seperti itu. Seperti terlalu lelah dengan kekecewaan yang akhirnya membawa saya ke titik jenuh, yang kemudian mempertemukan saya dengan titik balik.


It was only in December when I reached at certain point where I was so tired of being controlled by the anxiety, dependence, and fear which had rendered me weak, not only mentally but also physically. At that time, there was this strong sudden longing for solo travel, something which I hadn't feel in quiet a long time. Tentu aja ini adalah suatu hal yang sangat mengejutkan bagi saya. Bagaimana enggak? Baru aja di awal tahun ini saya membatin dan meyakinkan diri saya bahwa saya enggak akan pernah bisa solo travel dan enggak mau kalo bukan karena urusan kerjaan. I found myself so frightened by the concept of solo travel. 'I don't think I have the courage and strength to travel alone again, ever in my life' or 'I have already passed that phase of my life... it only suited me in my early 20s and now I don't mind traveling with other people, even those who aren't close to me, as long as I'm not alone' are the kind of thoughts that were in my head. Tapi bukan hidup namanya kalau enggak suka memberikan kejutan. Kali ini semua pikiran tersebut seperti hilang ditelan bumi. Enggak ada lagi perasaan yang membuat saya merasa bahwa saya enggak bisa sendirian. Saya enggak bilang bahwa ketakutan enggak menghampiri saya sama sekali. Cuma alhamdulillah banget, perjalanan ini dimudahkan sekali dari awal hingga akhir. Setiap kali ada perasaan takut atau setiap kali saya berada di dalam situasi yang membuat saya mulai cemas, setiap kali juga ada pertolongan yang datang. As if the universe itself was urging me to go. To get myself into more a comfortable frame of mind. To let go of things I would never be able to change. And indeed, to return to the me who would be lifted by her fear, not brought down by it. 

Dan saya bersyukur, sangat bersyukur, akhirnya saya tetap melakukan perjalanan seorang diri ke Skandinavia, tempat yang sudah lama di dalam bucket list saya. Karena dengan perjalanan ini menyadarkan saya satu hal bahwa sekalipun ada sisi yang udah retak dalam diri saya, tapi seenggaknya masih ada sisi - sisi lain dalam diri saya yang masih kokoh hingga bisa menutupi sisi retak itu. Karena dari perjalanan ini, saya menemukan diri saya yang masih sama seperti diri saya lima tahun lalu, yang bisa menikmati perjalanan seorang diri, bahkan kembali ke akal sehat saya bahwa lebih baik sendiri daripada bersama dengan orang yang salah. And most of all, after this trip, I have never felt this confident and brave to face the year ahead; the year where I turn 27th and the 3rd year of my PhD; both have been considered as the toughest year. 

Thanks 2017, for all the surprises, the lovely and the unpleasant ones, you gave me. 

4 comments:

  1. selalu suka gaya tulisanmu zu,,aku penasaran cerita solo travellingmu mudah-mudahan segera dipost ya hehe,,happy new year, semoga lancar proses PhD mu dan proses submit atau review jurnal pun tidak lama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aww, thank you Agessty! makasih buat doanyaa! aamiin ya Rabb.. deg2an deh ngadepin tahun ketiga ini. semoga tahun ini jg dilancarkan semua urusan dan rencana kamu ya :D

      Anyway, postingan ttg solo travel ini akan segera di blog. ditunggu ya! X)

      Delete
  2. Semoga perjalanannya Kak Ozu semakin banyak, biar aku tambah iri dan memantapkan hati untuk melakukan solo traveling pertamaku tahun ini :D Amin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Syifaa! Wah aamiin bgt doanya! makasihhh :') aku juga doain semoga kamu dilancarkan rencana solo travel-nya tahun ini yaa :D

      Delete