April 20, 2016

#ROH 27 : Traveling Solo

Setelah dua tahun sama sekali enggak pernah solo travel, sejujurnya saya kangen banget buat jalan - jalan sendirian lagi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi. Walaupun di sisi lain saya juga merasa takut dan enggan. Takut kecopetanlah. Takut kesepianlah. Takut kena diskriminasilah. Takut dengan kecorobahan saya sendirilah. Bahkan terkadang ketika terbersit pikiran tentang diri saya tiga tahun yang lalu, yang pernah melakukan beberapa kali perjalanan seorang diri ke tempat baru, rasanya saya suka enggak percaya gitu kalau saya bisa seberani dan semandiri itu. Ha! But deep down in my heart I knew that I missed the thrill and feeling of adventure that I will never get to experience while traveling with other people. Makanya, walaupun udah dua minggu berlalu semenjak saya kembali melakukan perjalanan seorang diri, sampai saat ini sisa kebahagiaan yang ditimbulkannya masih terasa dalam diri saya.


Walaupun saya udah ada niat mau solo travel lagi selama disini, sebenarnya belum ada kepastian kapan dan kemana-nya. Karena beberapa trip yang sebelumnya udah direncanakan memang selalu bersama dengan teman - teman saya disini. Sampai akhirnya sekitar pertengahan Maret lalu, saat saya pertama kali bimbingan dengan Alex, PhD co-supervisor saya, tiba - tiba merekomendasikan saya untuk datang ke sebuah konferensi yang memang sangat berhubungan dengan topik riset saya saat ini. Dan dari situ lah awal mula perjalanan dadakan saya ke Barcelona di awal bulan ini.

Di satu sisi rasanya senang karena bisa sekalian refreshing ditengah - tengah kondisi saya yang memang lagi agak jenuh saat itu. Tapi sebenarnya di sisi lain saya enggak se-excited itu karena niat utama saya ke Barcelona bukan untuk jalan - jalan. Apalagi dengan waktu saya yang sebentar banget dan jadwal konferensi yang berlangsung dari pagi hingga sore, jadinya total bisa jalan - jalan hanya sekitar satu setengah hari. Itu pun setengah hari juga diambil saat disela - sela menunggu diskusi satu dengan lainnya. Seandainya aja waktu itu saya lagi enggak ada deadline kerjaan lain dan belum mulai Dutch course, pasti saya akan extend beberapa hari di Barcelona, bahkan mampir ke kota lain juga. Namun siapa yang menyangka justru perjalanan yang diawali dengan ekpektasi yang rendah serta dilakukan secara mendadak dan dalam waktu yang singkat seperti ini, malah meninggalkan kesan mendalam bagi saya.


Sebenarnya setiap kali saya solo travel, hal utama yang paling saya khawatirkan adalah kecerobohan saya sendiri. Mungkin karena sampai sekarang saya masih agak trauma dengan pengalaman enggak enak yang saya alami waktu pertama kali keluar negeri tanpa orangtua saya, yaitu saat saya mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang lima belas tahun yang lalu, saya hampir enggak bisa pulang ke Indonesia. Saat itu padahal udah di bandara mau pulang kembali ke Jakarta dan bahkan udah pake acara nangis segala karena sedih mau pisah dengan host family saya. Eh enggak taunya pas mau masuk departure gate, baru sadar kalau paspor saya entah dimana. Gedubrak banget emang -___-Yang ada saat itu saya malah makin mau nangis, bukan lagi karena merasa sedih berpisah dengan hostfam, tapi saking panik dan takut enggak bisa pulang ke Indonesia karena paspor-nya entah dimana. Begitu dicari - cari, ternyata ada di salah satu tas kecil yang saya masukkin di bagian paling bawah koper saya. DUH! Entah ceroboh atau bodoh, saya agak enggak paham juga sih dengan diri saya saat itu. Hahaha. Tapi yang jelas, dampaknya sampai sekarang masih berasa banget di saya. Jadinya setiap mau pergi ke luar negeri, saya pasti selalu merasa was-was kalau belum masuk pesawat. Apalagi kalau perginya sendirian, karena enggak ada yang bisa saya tanyain buat double check perlengkapan apa aja yang mesti dibawa, atau saling mengingatkan. Ditambah lagi dengan sifat saya yang pada dasarnya memang mudah cemas, jadi kadang suka khawatir berlebihan kalau lagi mau pergi sendirian. Di sisi lain, karena sifat ceroboh dan khawatir berlebihan itu malah jadinya justru membuat saya lebih antisipasi. Seperti perjalanan kali ini, supaya enggak ketinggalan pesawat, akhirnya saya memilih untuk menginap di bandara. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Menunggu 10 jam sambil ngerjain paper ternyata lumayan banget jadi enggak terlalu berasa lama

Jadi ceritanya supaya saya bisa sempat jalan - jalan dulu seharian di Barcelona, saya mengambil flight paling pagi yang berangkat dari Amsterdam, yaitu jam 07.00 dari Schiphol Airport. Tapi berhubung setiap hari Minggu semua transportasi publik di Rotterdam baru beroperasi di atas jam 09.00, kecuali night bus (yang mana juga hanya beroperasi dengan jangka waktu lebih lama dan rute yang terbatas), maka saya memutuskan untuk berangkat dari Rotterdam pada Sabtu malam dan menunggu 10 jam di Schiphol Airport. Sebenarnya dulu waktu di UK saya pernah juga menunggu kereta di Leeds Station saat dini hari dari jam 01.00 sampai 05.00. Mulai dari sempat ditemani beberapa penumpang yang juga lagi menunggu kereta mereka, lalu sempat dimana akhirnya saya benar - benar seorang diri, dan sampai akhirnya ada penumpang lainnya yang baru datang. Tapi tetap aja kaan yaa itu udah tiga tahun yang lalu. Jadi kali ini tetap aja deg - degan. Walaupun akhirnya saya sadar kalau saat itu resikonya lebih tinggi daripada saya menunggu di Schiphol Airport.

Saya bisa bilang begitu karena ternyata setelah saya browsing, Schiphol termasuk world's most 'sleepable' airport. Bahkan ada seorang travel blogger yang pernah beberapa kali menginap di bandara yang berbeda dan mengakui bahwa Schiphol adalah bandara paling aman dan nyaman yang pernah ia kunjungi. Dan memang terbukti benar. Selama saya menunggu disana, bukan hanya cukup ramai oleh penumpang lain yang juga menginap disana, tetapi juga petugas bandara yang rajin banget setiap beberapa saat datang untuk mengecek kondisi dan memastikan orang - orang yang terlihat mencurigakan. Walaupun memang sih ujung - ujungnya saya enggak jadi tidur karena gabungan antara kedinginan, udah terlanjur enggak ngantuk karena sebelumnya minum kopi dulu, tanggung karena sambil mengerjakan paper, dan takut ketinggalan pesawat karena kebablasan tidur.

Kondisi beberapa penumpang yang juga menginap di Schiphol Airport

Saya sadar bahwa setiap tahun selalu ada perubahan yang terjadi dalam diri saya, baik itu cara pandang, hal yang saya suka dan enggak suka, kebiasaan, dan lain sebagainya. Namun untuk yang satu ini, saya bisa bilang bahwa alasan saya menyukai solo travel tetap sama seperti yang saya tulis di postingan saya dua setengah tahun yang lalu.  Dengan melakukan perjalanan seorang diri, saya jadi lebih peka terhadap keadaan sekitar saya, sehingga pada akhirnya ingatan saya tentang tempat dan suasana di kota tersebut lebih besar ketimbang saat saya melakukan perjalanan bersama keluarga dan teman. Saat saya melakukan perjalanan sendiri, saya bisa lebih bebas. Bebas untuk berjalan kaki seharian keliling kota ke tempat yang saya inginkan, dan hanya naik transportasi publik saat saya benar - benar sudah merasa lelah. Bebas untuk memilih jalan mana yang ingin saya ambil, yaitu jalan yang biasanya lebih sedikit dilalui oleh turis. Bebas untuk mengunjungi tempat - tempat dimana saya dapat menemukan perasaan yang bisa memahami dan mendekatkan saya dengan budaya lokal. Dan masih banyak lagi hal lainnya yang hanya bisa saya dapatkan ketika saya pergi seorang diri.


Perjalanan saya kali ini enggak mungkin akan semenyenangkan ini kalau enggak didukung oleh tempatnya. Alhamdulillah banget perjalanan kali ini lancar dari awal hingga akhir. Padahal sebelumnya saya sempat takut karena Barcelona terkenal sebagai salah satu kota yang banyak pencopetnya. Apalagi mendengar pengalaman langsung dari orang terdekat saya, yaitu Bunda yang dulu pernah dicopet tasnya di kota ini. Namun di luar dugaan saya, ternyata Barcelona sangat bersahabat. Selain kotanya yang cantik dan bangunannya yang lebih berwarna dibandingkan kota - kota besar di Eropa lainnya yang pernah saya kunjungi, saya juga terobsesi dengan jalanan kecil dan balcony yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga. Sebenarnya masih banyaaaak hal lainnya yang membuat saya menyukai kota ini, dan bahkan mampu mengembalikan ingatan saya yang dulu sempat hilang tentang betapa menyenangkannya melakukan perjalanan seorang diri. Tapi berhubung kalau diceritain disini akan membuat postingan ini menjadi sangat panjang, maka saya memutuskan untuk membuat postingan terpisah tentang Barcelona. Ditunggu aja yaa :3

7 comments:

  1. asyik banget sih ke Barcelona. Aku belum pernah benar-benar solo travelling, tapi tertantang pengen banget palagi ke luar negeri. Soalnya suka rasanya kebingungan sendiri. Haha. Kaya i feel free~

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo ernyyy, cobain deh kapan - kapan jalan sendiri. beda deh feeling seneng dan tantangannya dengan kalo lagi jalan - jalan sama keluarga dan teman :D

      Delete
  2. seru sih, tapi terkadang agak merasa sendiri juga bingung mau ngapain kalau solo traveling. tapi iya bisa kemanapun sesuka hati dan foto sana-foto sini sesuka hati.
    ditunggu banget kok mbak ozu sama postingan style dan dalam bahasa inggrisnya juga hihihi :D


    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa kalo kelamaan solo travel emg berasa jg kesepian, tp berhubung kmrn cm sebentar dan emg sambil sibuk conference jg jd malah berasa seneng :D

      waahh aku gampang ketebak bgt ya mbaa? soalnya emg rencananya abis ini mau posting tentang style wkwkwk

      Delete
  3. ketagihan banget baca blognya mbak, jadi pengen bikin blog juga. kasih postiingan tips2 buat bikin blog dong mbak. terimakasih. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hello there! makasihh yaa udah baca blog sayaa :D

      waah, boleh nanti kapan - kapan kalo lagi ada inspirasi nulis tips blog, aku bikin postingan khusus. atau bisa juga baca tulisan yang aku sempet tulis disini: http://nazuragulfira.blogspot.nl/2014/12/the-perks-of-being-blogger.html. semoga bermanfaat yaa hihi.

      Delete
  4. Haha... ketemu ama blognya mbak Ozu, kapan couple traveling nya mbak? sekalian numpang promosi blog saya www.kakikakikita.com

    ReplyDelete