December 31, 2015

#ROH 20 : December

I don't know how many times I've told you this, but December has always had a special place in my heart. It's that time of year when I cannot help myself to feel joy and festivity.

Selain karena dekorasi, lagu dan film tentang Natal yang membuat bulan ini selalu terasa istimewa (even though I don't celebrate Christmas, I can feel the same happiness with those who do celebrate it), Desember selalu menjadi bulan yang ditunggu – tunggu oleh saya setiap tahunnya karena selalu ada rencana yang menyenangkan di bulan ini. Tetapi tahun ini berbeda. I have nothing to look forward to. Enggak ada rencana traveling, enggak ada Christmas Market, enggak ada salju yang turun, enggak ada belanja saat boxing day, enggak ada acara yang ditunggu saat New Year’s Eve. Nyatanya, tanpa ada rencana dan berbagai hal tersebut enggak mengurangi sedikit pun kebahagiaan yang diberikan oleh Desember. Bahkan bisa dibilang kali ini terasa lebih hangat dari biasanya. Indeed, it was exactly like how I wanted to spend my December: do little things with the ones that matter for me, which seems highly unlikely to happen next year. 


Dimulai dari minggu pertama Desember ketika mengunjungi Bandung yang awalnya hanya diniatkan untuk mengikuti sebuah workshop yang ternyata jauh dari ekspektasi saya, lalu malah berujung jadi acara "jalan – jalan" mengunjungi tempat yang dulu sering saya kunjungi saat kuliah hingga tempat - tempat baru paling hits di kota ini; merealisasikan rencana sesi foto yang sudah tertunda beratus kali, yang walaupun cuma sebentar tapi sangat memuaskan; menginap dengan intensitas yang lebih sering dari biasanya bersama kedua sahabat saya, bahkan mereka sampai membantu saya packing buat pindahan which made me feel a bit more melancholic; merayakan ulang tahun Ayah dengan makan siang bersama anggota keluarga yang hampir komplit; mengadakan piknik ke tempat yang jauh dari keramaian di saat orang lain harus merelakan waktu berjam – jam di jalan hanya untuk menikmati hari libur mereka; menghabiskan hari - hari terakhir di tahun ini sambil menikmati pancaran sinar matahari yang belum tentu saya dapatkan di bulan depan; berleha – leha di sebuah tempat yang saya anggap sebagai rumah selama dua tahun belakangan ini; Skype dengan Ali, my lil bro who's doing internship in Japan; jalan - jalan ke kebun binatang setelah entah berapa tahun yang lalu terakhir kali saya kesana, dan kali ini terasa lebih menyenangkan karena mengunjunginya bersama keponakan - keponakan saya; melalui malam terakhir tahun ini dengan movies marathon with my best housemate-slash-sister and a bag of marshmallow popcorn, cheeseburger and chips.   

Thanks for being good, December 2015. You will be missed :')

December 30, 2015

#ROH 19 : Picnic

Kayanya kegiatan yang satu ini enggak pernah gagal membuat saya senang. Entah itu bersama teman - teman, keluarga, pasangan, orang - orang yang baru dikenal; entah dilakukan di taman publik, pinggir pantai, maupun di hutan; entah dilakukannya secara "niat" yang sampai membawa berbagai perlengkapan makan cantik maupun piknik "ala kadarnya" yang hanya membawa bekal untuk dimakan; entah dilakukan saat musim panas maupun musim gugur; entah saat di Boston, Bournemouth, Paris, Perth maupun di Sentul; bagi saya yang namanya piknik itu selalu menyenangkan. Mungkin suasana di ruang terbuka yang jarang saya dapatkan dalam keseharian saya. Mungkin rasa kebersamaan yang muncul dari saat mengobrol, makan dan bermain saat piknik. Mungkin saat mempersiapkannya yang membuat kami bekerja sama dan berbagi tugas membawa perlengkapan di hari H. Mungkin juga saya termakan film dan foto - foto lucu saat mereka mengimajinasikan suasana saat piknik, yang akhirnya membuat saya selalu merasa excited saat diajak piknik. Tanpa terkecuali piknik yang diadakan minggu lalu bersama para sahabat saya. Perjalanan lancar yang hanya memakan waktu satu jam. Matahari bersinar tanpa ada hujan turun setetes pun. Suasana Gunung Pancar yang enggak terlalu ramai. Makanan yang enak. Teman - teman yang menyenangkan. Foto - foto yang bagus. Please tell me, what's there to complain about?














December 29, 2015

#ROH 18 : Books

Salah satu dampak dari meningkatnya kemageran saya buat pergi keluar rumah saat weekend - yang terjadi akhir - akhir ini - adalah tertundanya niat saya untuk ke toko buku dan membeli stok buku saya yang udah habis. Alhasil, saya jadi lebih sering membaca buku lewat hp, suatu hal yang sebenarnya bukan menjadi preferensi saya dari dulu. Lalu kenapa enggak belanja online aja? Call me old-fashioned, but I don't prefer online shopping unless for stuffs that can hardly be found at the store. Apalagi saya memang tipe orang yang betah menghabiskan waktu lama untuk melihat serta membandingkan beberapa barang di toko, sebelum akhirnya dibeli (jiwa emak-maknya keluar deh :p). Lagipula kesenangan yang saya dapatkan bukan hanya saat mencium aroma khas yang muncul ketika membuka isinya atau saat membaca pikiran dan imajinasi sang penulis. Indeed, the real happiness begins ketika saya berada di dalam toko buku dan menelusuri rak satu ke rak lainnya; sekalipun saya sudah mendapatkan buku yang ingin saya beli. Makanya saya senang banget akhirnya bisa ke toko buku lagi untuk membeli beberapa buku baru, dan tentunya membaca sambil memegang kertas asli dibandingkan menyentuhnya di layar hp. 



Beberapa buku tersebut diantaranya adalah: 

The Rise of The Creative Class - Richard Florida 
Sebagai salah satu buku fenomenal dalam bidang urban and creativity, harusnya udah dari dulu saya punya buku ini. Tapi berhubung bisa baca gratis di perpustakaan kampus saya dulu dan udah sempat beberapa kali baca versi jurnalnya, akhirnya selalu diurungkan niat until membeli buku ini. Sampai akhirnya beberapa waktu yang lalu tiba - tiba kepikiran lagi buat membaca buku ini. Mungkin niat saya ini memang didukung oleh semesta, hingga akhirnya ketika minggu lalu saya iseng - iseng mampir ke toko buku yang saat itu lagi sale, ternyata ada buku ini dan tinggal satu! Rezeki anak sholeh emang enggak kemana yaa :3

The Best of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle 
Sebenarnya saya bukan termasuk penggemar novel klasik. Bahkan sejauh ini hanya ada dua novel klasik yang pernah saya baca; The Catcher in The Rye dan The Picture of Dorian Gray. Saya pun bukan termasuk orang yang terlalu menikmati novel atau film tentang detektif. Tapi Sherlock Holmes adalah pengecualian. Semenjak jatuh cinta sama TV series-nya, saya jadi ikutan penasaran buat baca bukunya. Sambil membayangkan sosok Bennedict dan Martin sebagai Sherlock dan Dr.Watson, membaca buku ini semakin terasa menyenangkan dan lumayan mengobati rasa kangen sambil menunggu their upcoming movie in January. 

All The Light We Cannot See - Anthony Doerr
Pertama kali tau buku ini saat dapat rekomendasi dari seorang teman saya, Dhea. Eehh enggak taunya dari hasil kepo saya googling, buku ini memang lagi jadi salah satu best selling novel yang ramai dibicarakan orang; dan saat lagi main ke Aksara, buku ini sedang terpampang dengan manisnya di antara buku - buku lain yang direkomendasikan oleh pihak toko buku tersebut. As expected, buku ini berhasil membuat saya enggak sabar pengen terus membacanya dan menyelesaikannya karena sang penulis yang mampu menyusun plot ceritanya dengan sangat menarik. 

December 27, 2015

#ROH 17 : Best Friends

Sebenarnya saya bukan termasuk orang yang suka memiliki hubungan yang membuat saya terlalu attached dengan orang lain, sekalipun dengan orang - orang terdekat saya. Apalagi di saat seperti ini, ketika saya akan pergi jauh dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya saya lebih memilih untuk menjaga jarak supaya nantinya enggak semakin merasa sedih dan "berat" ketika harus meninggalkan mereka. Di saat "strategi" ini berhasil diterapkan ke beberapa orang, masih ada beberapa orang lainnya yang justru membuat saya semakin nyaman. Diantara orang - orang yang termasuk di dalam kelompok kedua, salah satunya adalah kedua sahabat kecil saya ini. 



Empat belas tahun yang lalu saya bertemu dengan Fia dan Anna ketika kami, bersama dengan lima anak lainnya, sama - sama terpilih untuk mewakili Indonesia dalam sebuah pertukaran pelajar di Jepang. Menghabiskan waktu di suatu tempat yang sepenuhnya baru bagi kami, terpisah ribuan kilometer dari orang tua masing - masing; sempat mengalami culture shock ketika bertemu dengan ribuan peserta dari berbagai negara, maka enggak mengherankan kalau semua pengalaman itu justru memperat pertemanan kami. Mungkin karena saat itu enggak ada satu pun dari kami yang mengira bahwa pertemanan bocah - bocah yang baru aja lulus dari sekolah dasar, yang dipertemukan hanya dalam waktu beberapa bulan untuk sebuah acara yang berlangsung selama dua minggu, akan bertahan dalam jangka waktu yang panjang; hubungan kami akhirnya terputus begitu program tersebut selesai. 

Namun hal itu enggak berlaku bagi saya, Fia dan Anna. Meskipun persahabatan kami sempat hampir pupus oleh jarak dan kesibukan, terutama saat kami menempuh pendidikan di sekolah yang berbedabertemu dengan lingkungan dan teman baru; mempunyai kesibukan masing - masing; serta ketika saya dan mereka sempat tinggal di kota dan negara yang berbeda. Namun akhirnya kami bisa buktikan bahwa "sahabat kecil" itu benar adanya. Entah melalui telefon, bbm/whatsapp/line grup, menginap bareng, jalan - jalan, hingga memiliki diary bersama yang digilir secara bergantian untuk menjadi tempat bercerita kehidupan satu sama lain di saat kami terpisah jarak dan kesibukan masing - masing; semua itu yang menjadi cara kami supaya tetap bisa menjaga hubungan dan komunikasi kami dengan baik sampai saat ini. Bahkan akhirnya kami jadi bisa mempertemukan kembali dan berkumpul bersama keempat teman kami lainnya yang dulu sempat pergi ke Jepang.

Diantara keempat anak lainnya, Aldi yang paling sering jalan bertiga sama saya, Fia dan Anna (photo by Dika)

Dengan kepribadian yang berbeda - beda dan tumbuh di lingkungan pertemanan yang berbeda juga, sebenarnya sangat memungkinkan bagi saya, Fia dan Anna untuk menjauh. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, semua perbedaan tersebut membuat kami belajar untuk bisa menerima perbedaan satu sama lain dan menghargainya. Bukan hanya komunikasi dan intensitas bertemu yang meningkat, kami juga lebih sering melakukan sebuah rutinitas yang sudah lama dilakukan dari kecil hingga lulus kuliah, yaitu menginap  di tempat tinggal kami secara bergantian. Menginap bareng menurut kami berarti: menonton film horor atau thriller (padahal kami bertiga sama - sama penakut, tapi entah kenapa kalau nonton film bareng di rumah bawaannya pengen yang serem - serem aja! hahaha), masak bareng, main kartu UNO/remi, mengobrol tentang berbagai hal sampai pagi, dan tentunya adalah makaaaan (secara gitu yaa kami bertiga pada suka makan. Haha!). Rasanya saya enggak pernah enggak merasa sedih ketika selesai menginap bareng dan udah saatnya saya pulang ke rumah atau mereka yang pulang ke rumah mereka masing - masing. Pasti langsung mendadak baper dan sepi gitu rasanya. Enggak heran kalau kegiatan menginap bareng bersama kedua sahabat saya ini menjadi salah satu hal yang bisa banget buat jadi refreshment di saat saya lagi jenuh. Karena itu juga yang membuat saya awalnya ingin menulis judul postingan ini secara lebih spesifik seperti "Sleepover with Besties" atau "Having Quality Time with My Best Friends". Namun setelah dipikir - pikir lagi, rasanya kok kurang pas ya. Karena sebenarnya makna kebahagiaan yang diberikan oleh mereka bukan hanya ketika kami menginap bareng atau menghabiskan waktu bersama dengan melakukan hal - hal menyenangkan. 


Their meanings are way beyond that. Mereka telah memberikan salah satu hal paling berharga, yaitu sebuah persahabatan yang tulus. Mereka hadir bukan hanya ketika ingin bersenang - senang, tetapi juga ketika saya sedang sedih, takut dan kesepian. Mereka enggak ragu - ragu untuk menjadi "bodyguard" saya di saat saya ingin berlindung, menunda untuk pulang ke rumah mereka hanya demi menemani saya yang sedang sendirian di apartemen, menghibur ketika saya sedang merasa sangat tertekan dengan pekerjaan, menyadarkan kesalahan saya tanpa menghakimi. Mereka mengerti sisi introvert saya dan enggak pernah memaksa saya untuk menceritakan sesuatu hingga saya sudah siap. Mereka mengerti bahwa saya sulit untuk menolak, sehingga meyakinkan berkali - kali bahwa saya melakukan sesuatu bukan karena rasa enggak enak, tapi karena keinginan saya sendiri. Dan masih banyak hal lainnya tentang diri saya yang sudah dipahami oleh mereka, yang terkadang belum dapat dipahami oleh orang lain dan bahkan saya sendiri. 

Mereka juga memberikan persahabatan yang penuh warna dan tawa. Hal yang membedakan mereka dengan kebanyakan teman perempuan saya lainnya adalah saya bisa melakukan banyak hal bersama mereka. Bukan cuma bisa diajak jalan - jalan ke mall, nyobain kafe baru, atau karaokean sampai berjam - jam; tetapi yang lebih pentingnya lagi, Anna dan Fia bisa banget buat diajak berpetualang bareng seperti backpacking ke beberapa kota di Indonesia, ngebolang ke pasar subuh di Senen, naik kapal Ferry di kelas ekonomi yang tidurnya sampai harus sebelahan sama kaki orang lain, trekking buat mengejar sunrise ke salah satu gunung yang ada di Jogja, dan masih banyaaaaak banget cerita perjalanan seru saya bersama mereka yang enggak bisa dijelaskan satu persatu disini. Oh iya, kedua sahabat saya ini juga paling sering membuat saya ketawa, entah itu berasal dari bakat natural mereka yang cocok banget jadi pelawak, maupun hal - hal "luar biasa" yang terjadi saat kami jalan bertiga. Dengan bersama mereka juga membuat saya jadi enggak malu buat melakukan sesuatu yang sebelumnya enggak akan saya lakukan. And I can't think of any greater happiness than being around with people who can make me laugh so hard and make ordinary things become extraordinary

Thank you Fi, Na, for fulfilling my childhood dreams and giving me one of the best things in life: a true friendship that lasts longer than others. Semoga rencana kita di tahun 2017 bisa terwujud yaa! I luph youuuu! :3

December 22, 2015

#ROH 16 : Browsing for Inspiration

Biasanya kalau butuh sesuatu yang dapat menginspirasi serta membangun kembali mood saya tapi lagi enggak bisa fokus pada satu hal tertentu, seperti saat menonton film atau membaca buku, saya memilih untuk browsing. Mulai dari membaca pengalaman hidup orang lain, mencari ide kreatif untuk membuat sesuatu, atau sekedar melihat foto - foto lucu yang dapat memanjakan mata saya, semua itu udah cukup untuk membuat saya merasa excited dan kembali bersemangat dalam sekejap. Disini saya mau berbagi beberapa blog dan website yang biasanya menjadi referensi saya di saat sedang bosan atau butuh ide baru. Beberapa dari mereka ada yang udah saya ikuti sejak beberapa tahun, ada juga yang baru saya ikuti belakangan ini.

• WishWishWish •
Dulu saya tipe pembaca yang lebih menyukai fashion blog ketimbang jenis blog lain. Namun semenjak dua tahun belakangan ini saya jauh lebih menikmati photography, traveling, craft, and personal blog. Bahkan beberapa blog fashion yang dulunya sempat saya cek setiap harinya, sekarang malah udah enggak pernah dikunjungi lagi karena saya yang sekarang sudah merasa jenuh dengan konten blog mereka yang menurut saya kurang variatif, alias hanya memposting foto - foto outfit atau yang berhubungan dengan fashion aja. But this blog which is owned by Carrie Harwood, is the exception. Selain karena style-nya yang sesuai dengan selera saya yaitu simple yet fashionable, salah satu hal yang membuat blog ini enggak bosan dilihat adalah cara Carrie memvariasikan konten blognya. Meskipun isi blognya tetap didominasi oleh postingan outfit, tetapi dengan diselingi foto - foto lainnya (misal, makanan atau kondisi tempat pengambilan foto saat itu) membuat blog ini jadi enggak monoton. Satu hal lagi yang bikin saya setia jadi pembaca blog WishWishWish selama hampir lima tahun adalah tips traveling yang diberikan Carrie, yang pasti selalu menjadi salah satu referensi saya saat membuat itinerary.




Unlike any other fashion brand, Urban Outfitters (UO) has much more to offer than just selling cute clothes, shoes and bags. Mungkin enggak banyak dari kalian yang familiar dengan brand ini karena mereka enggak membuka cabang di Indonesia. Tapi bagi kalian yang udah pernah mengunjungi salah satu toko mereka, pasti paham betapa menggemaskannya seisi toko ini. Selama di UK dulu, setiap kali saya mau window shopping atau lagi memasuki waktu sale (karena harga - harganya yang overpriced, saya jarang banget beli disini. Itu pun saat lagi sale aja. HAHA. Maklum, mahasiswa kere :p), salah satu toko yang pasti saya kunjungi selain Topshop adalah UO. Bukan hanya rak pakaiannya yang bikin saya mupeng, terlebih lagi bagian home & apartment decor yang menjadi godaan terbesar dan membuat saya betah berlama - lama disanaDan setahun belakangan ini saya baru menemukan hal lainnya yang membuat saya semakin jatuh cinta sama UO, yaitu blog-nya yang sangat menarik dan inspiratif dengan variasi pembahasannya mulai dari ide untuk mendekorasi apartemen, profil orang - orang kece versi UO, crafting ideas, resep makanan, roadtrip diaries, hingga rekomendasi film dan musikSiap - siap aja "kalap" membuka banyak new tab saat mengunjungi blog ini!



• Local Milk 
There's always something intriguing about food bloggers. Pengalaman saya memasak atau membuat kue dengan resep sederhana aja udah cukup menghabiskan waktu dan menguras tenaga. Di sisi lain, menjadi food photographer pun juga enggak kalah melelahkan karena biasanya membutuhkan beberapa kali foto sampai mendapatkan angle yang tepat. Dan para food bloggers ini melakukan keduanya secara bersamaan! Belum lagi setelah itu harus menulis di blog mereka tentang resep dan cerita dibaliknya. Makanya ini juga yang membuat saya kagum dengan para food bloggers, karena jiwa multitasking yang dimiliki mereka. Especially for Beth Kirby; a writer, poet, chef, photographer and stylist behind Local Milk; I adore her more than any other food bloggers. Not only for her natural talent for styling the table (she's apparently a home and flower stylist too!), but also her life philosophy. Cara Beth menyampaikan perasaannya dan menceritakan kehidupannya, kemudian mengaitkannya dengan resep yang ia buat adalah salah satu alasan mengapa dia tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan para food blogger lainnya, dan bahkan food celebrity seperti Martha Stewart atau Rachael Ray.


"It’s in those moments most of all that I have to sink my hands into the earth and hang on. Because whether I’m falling or breaking, I can’t lose sight of that very basic truth: the show must go on. That’s the thing. Empires rise. Cities burn. And at any given point we might be on the seemingly winning or losing side. But while we’re alive we have to get on with the business of living. Eating. Loving. Dishes. Work. The world doesn’t stop for us; it doesn’t heed our little novels. It spins like mad, and you can either plant your feet or get flung into space. I’ve done both. I prefer my feet on the earth. So, banana bread. Bake it. Whether you have calm seas or chaos."
          Beth Kirby


• Kinfolk 
Entah pengaruh usia, lingkungan atau pengalaman yang telah saya lalui, yang jelas semakin kesini semakin banyak perubahan makna dan cara pandang saya terhadap kehidupan yang ingin saya jalani. Salah satunya yang sudah sempat saya sharing disini adalah tentang perubahan pola hidup yang membuat saya lebih aware dalam memilih makanan yang masuk ke dalam tubuh saya; dan juga perubahan makna kebahagiaan yang saya dapatkan dengan melakukan hal - hal menyenangkan dan berada di sekitar orang - orang yang membawa energi positif bagi saya. Selain kedua hal tersebut, saya juga semakin tertarik untuk menjalankan konsep slow living. Sebuah cara untuk menjalani hidup dengan lebih mementingkan kualitas; baik kualitas hidup kita sendiri, maupun orang - orang, makhluk hidup dan lingkungan di sekitar kita. Salah satunya adalah dengan menjadi orang yang mindful ketika melakukan atau memutuskan segala sesuatunya. "Slow living means slowing down and thinking twice before you do something. We are rethinking how we approach our bodies, lives and planet."(Huffington Post, 2013).

Salah satu pihak yang sadar akan pentingnya slow living ini adalah Ouur Media, sebuah agensi dan penerbit dalam bidang digital media, yang juga memproduksi majalah Kinfolk. Dengan deskripsinya sebagai "a slow lifestyle magazine", Kinfolk banyak memberikan informasi kepada para pembacanya agar dapat live to the fullest, melalui berbagai hal di sekeliling kita seperti hobi, rumah, makanan, pakaian, lingkungan di sekitar kita (neighborhood), teknologi, desain, dan aspek lainnya yang mampu membuat hidup kita lebih meaningful. Dilihat dari kualitas material majalah maupun kontennya, terlihat wajar memang jika Kinfolk dijual dengan harga yang terbilang mahal. Untungnya, mereka masih berbaik hati untuk membagi beberapa artikel yang ada dibahas dalam printed copy ke dalam website mereka. Saya sendiri lebih tertarik dengan kolom essay yang seringkali memberikan perspektif baru terkait dengan topik tertentu. Walaupun enggak semua artikel dapat diakses secara gratis, masih cukup banyak essay menarik yang bisa dibaca.




• Travelettes 
Beberapa kali mengunjungi travel website atau blog, ternyata hanya Travelettes yang bisa membuat saya untuk setia dari empat tahun yang lalu. Mungkin karena postingannya yang enggak hanya ditulis berdasarkan perjalanan yang dilakukan oleh para tim Travelettes, tetapi juga dari para pembaca mereka, sehingga destinasi dan artikelnya pun sangat bervariasi dan enggak membosankan. Mulai dari travel guide di lima benua, pemilihan sepatu yang nyaman untuk tipe destinasi yang berbeda, rekomendasi tempat - tempat yang off the beaten track, ide kado yang paling tepat buat different types of traveler, sudut pandang para perempuan di seluruh penjuru dunia tentang makna perjalanan, hingga rekomendasi roadtrip playlist, buku dan film. I warn you, though, this website may contain images that will increase your wanderlust and cause an impulsive behaviour that leads to buy airline tickets! :p




• Tumblr 
Ada masa dimana saya sering menyimpan foto - foto yang saya temukan dari internet simply because they bring a spark of happiness every time I saw them on my computer. Tapi sejak beberapa tahun ini saya enggak perlu lagi menambah folder di laptop saya karena udah ada Tumblr yang menjadi tempat untuk menyimpan berbagai foto dan quote favorite saya. Dengan koleksi foto - foto yang sebagian besarnya very hipster and look magical, kayanya mudah banget menemukan inspirasi disini. Makanya enggak heran kalau Tumblr juga jadi salah satu website yang pertama kali saya cari buat referensi di saat saya ingin bereksperimen dengan fotografi atau butuh ide buat outfit. Enggak hanya itu, melalui Tumblr saya juga jadi banyak mengetahui dreamy places yang mengingatkan saya dengan buku dongeng dan film yang sering saya lihat ketika masih kecil. Bahkan saya sempat traveling ke beberapa desa di Inggris, yang informasinya saya dapatkan di Tumblr. Beberapa Tumblr favorite saya adalah misswallflower, allthingssoulful, cloudedcamera. Kalau kamu mau lihat lebih banyak Tumblr yang sering saya reblog, bisa langsung buka Tumblr saya di http://nazuraaa.tumblr.com.



December 16, 2015

#ROH 15 : Delete The Negative

Entah sejak kapan saya mulai menyadari bahwa walaupun jumlah teman saya semakin banyak dari tahun ke tahun, inner circle saya justru semakin lama semakin menyusut. Tapi bukannya merasa sedih, saya malah merasa senang. Karena ternyata memang lebih baik memiliki sedikit namun dapat memberikan banyak kebahagiaan dan dampak positif ke saya, daripada jumlah yang banyak namun diisi dengan drama dan hal - hal negatif lainnya. Seperti kata Chelsea Islan, "Sometimes your circle decreases in size, but increases in value. Have less but the best."

Ada beberapa orang yang dulunya pernah memiliki hubungan yang bisa terbilang dekat dengan saya, tetapi karena suatu kondisi (jarak, prioritas dan kegiatan) akhirnya memaksa kami untuk menjauh. Namun ada juga yang memang secara sengaja saya buatkan dinding pembatas untuk memberikan jarak antara saya dengan mereka. Bukannya bermaksud sombong atau menjadi orang yang picky dalam berteman, tetapi karena pengalaman saya yang dulunya sempat mempertahankan orang - orang ini dan kemudian menyadari bahwa keberadaan mereka justru mengurangi kebahagiaan dalam diri saya. Mereka adalah orang - orang yang seringkali membuat saya harus meminta maaf untuk meredam perselisihan yang sebenarnya bukan berasal dari kesalahan saya; memprioritaskan kepentingan mereka dibandingkan diri saya karena enggak bisa menolak padahal saya sadar bahwa orang tersebut hanya ingin memanfaatkan kebaikan saya; menghadiri acara kumpul bersama agar menjaga "silaturahmi" yang sebenarnya saya sendiri enggak merasa nyaman berada di sekitar mereka; meluangkan waktu berjam - jam hanya untuk mendengarkan keluhan atau drama kehidupan tentang hal yang bertentangan dengan hati saya. Selain itu, saya juga semakin mengurangi intensitas bertemu dengan orang - orang yang terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain. Kalau hanya sekedar berbagi informasi tentang kabar si A atau si B sih enggak masalah yaa, tapi kalau udah membahas tentang keburukkan seseorang apalagi jika orang tersebut enggak ada keterkaitannya dengan hidup saya atau berpotensi untuk mengganggu saya, I would much rather go to bed than have meaningless conversations like that. Bukannya sok suci atau sok baik ya, tapi beneran deh, setiap kali mendengar pembicaraan seperti itu, rasanya langsung ada aliran negatif yang masuk ke dalam pikiran dan hati saya.


What I'm trying to say, is that you don't have to be afraid of losing some people who bring negativity into your life. Lebih baik kehilangan orang - orang tersebut daripada kehilangan jati diri dan kebahagiaan diri sendiri. Enggak usah takut merasa kesepian atau enggak punya teman, karena justru dengan melepas mereka, kalian akan mendapatkan orang - orang yang lebih baik, yang menghargai dan memberikan lebih banyak kebahagiaan ke kalian :)
Respect yourself enough to walk away from anything that no longer serves you, grows you, or makes you happy.  
(@thegoodquote)

December 13, 2015

#ROH 14 : Tweedehands

Seiring berjalannya waktu, saya semakin sadar bahwa niat dan passion itu enggak cukup untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan tanpa adanya fokus dan komitmen. Kedua hal inilah yang belum saya miliki ketika menjalankan sebuah mimpi kecil saya, Tweedehands. Yang awalnya semangat banget menjalankannya sampai hampir setiap hari memposting foto, dan akhirnya beberapa bulan ini malah sama sekali enggak tersentuh karena kehilangan fokus dan semangat. Sejujurnya, selalu ada rasa bersalah setiap kali melihat baju dan beberapa barang lainnya yang sengaja saya pisahkan untuk dijual, namun tergeletak begitu saja tanpa difoto dan ditunjukkan ke website maupun instagram. Bahkan beberapa kali sempat ditanyakan kapan Tweedehands menjual barang lagi, tapi pertanyaan – pertanyaan tersebut enggak mampu menggerakkan hati saya. Sampai akhirnya saya menemukan semangat untuk kembali menjalani Tweedehands di beberapa minggu terakhir ini. Namun sayangnya, rasa semangat ini baru ada lagi justru sebelum Tweedehands akan kembali dinonaktifkan sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan :(

Padahal melalui Tweedehands ini, saya bukan hanya mendapatkan kesenangan dari thrifting yang memang sudah menjadi hobi saya sejak lama, tetapi juga mendukung saya untuk hidup lebih sederhana dan terorganisir dengan declutter lemari saya. Semenjak saya mengetahui betapa menyenangkannya saat melihat orang lain bisa menggunakan barang - barang yang tersimpan di lemari pakaian saya selama berbulan - bulan bahkan bertahun - tahun tanpa sekalipun terpakai, saya enggak lagi merasa tega dengan barang - barang yang memang udah enggak cocok atau udah bosan karena dulunya terlalu sering dipakai oleh saya. Kebahagiaan lainnya yang saya dapat ketika menjalani Tweedehands ini adalah kesempatan untuk mengadakan photo session bersama teman - teman dekat saya, yang memang udah sering saya lakukan sejak jaman kuliah dulu. Biasanya "model langganan" saya adalah Sari dan Ica, yang bukan hanya berbakat untuk menjadi model, tapi juga membuat sesi foto - foto ini menjadi lebih fun karena diselingi dengan obrolan dan canda tawa. 

Yaa, semoga aja beberapa tahun mendatang saya bisa kembali menjalani Tweedehands dengan lebih fokus dan konsisten sehingga mimpi kecil saya ini mampu berkembang dan mendatangkan lebih banyak kebahagiaan bagi saya dan banyak orang :')








December 10, 2015

#ROH 13 : Good People

Happy people gain happiness from the people they are with. People who reflect the person you want to be. People who you are proud to know. People who you admire. People who bring out the best in you. People who you could tell them things and they won't judge you. 

Diantara sekian banyak nama - nama yang bisa dimasukkan ke dalam kategori "the most influential people who can reproduce PNGA's happiness", ada satu orang yang termasuk di dalamnya, yang sebenarnya enggak memiliki hubungan darah dengan saya dan bukan orang yang bertanggung jawab apalagi berkewajiban mengurus saya. Intinya sih bukan siapa - siapanya saya, tetapi malah termasuk orang yang paling sering direpotkan oleh saya. Seseorang yang sering memberi asupan kebahagiaan ke saya entah dengan kehadirannya yang mampu membuat saya merasa tenang, candaannya yang menghibur dan membuat saya tertawa, serta tindakan dan ucapannya yang dapat menyadarkan saya untuk melihat sisi baik dari diri saya. 


Sekitar delapan tahun yang lalu, saya mengenal Ichsan Fiqri Darmawan, atau biasa dikenal dengan Bocan, pertama kali saat kuliah sarjana di Planologi ITB. Awalnya perkenalan kami hanya sebatas junior dan senior yang memiliki nomor induk mahasiswa (NIM) yang sama. NIM Bocan adalah 15406057, sedangkan saya adalah 15407057. Siapa yang menyangka justru dari kesamaan NIM tersebut berujung pada pengenalan kami yang lebih dalam dan keterikatan yang lebih besar. Bukan hanya menjadi seseorang yang dapat berbagi tawa, tangis, amarah; seseorang yang mengenalkan saya kepada banyak hal - mulai dari pengalaman hidup, pemikiran, orang - orang, hingga tempat makan, musik, kegiatan, film, dan lainnya; seseorang yang menghibur dan menemani saya di kala suka dan duka; seseorang yang mampu menghadapi saya di saat terburuk dan terbaik saya. Tetapi lebih dari itu, Bocan juga telah mengajarkan banyak hal yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya. 

Enggak sedikit orang yang menganalogikan saya dengan Bocan seperti langit dan bumi. Sekilas, karakter dan sifat kami berdua terlihat sangat berbeda. Mungkin orang yang enggak terlalu mengenal Bocan akan menganggap saya dan dia sebagai "angel and devil". Awalnya, saya pun termasuk salah satu orang yang termakan dengan "cover"-nya Bocan yang terkesan susah diatur dan selengean. Tapi seiring berjalannya waktu, saya menemukan banyak sisi lain dalam dirinya, yang sangat berbeda dari penampilan luarnya. Sisi yang seringkali membuat saya terkejut, namun diam - diam mengaguminya. Kalau dideskripsikan dalam sebuah kalimat, saya akan menggambarkannya sebagai seorang anak laki - laki polos yang kebaikannya melebihi orang - orang yang terlihat baik sekalipun. Melalui perkenalan saya dengan Bocan jugalah yang kembali menyadarkan saya bahwa kita enggak akan pernah bisa menyimpulkan antara orang baik dan enggak baik hanya dari perilaku dan perbuatan orang tersebut di depan umum. Justru, kebaikan sebenarnya berasal dari yang tidak tampak oleh mata. I can safely say that he's one of the most kind hearted people I have ever met.

Ketulusannya dalam mengerjakan kepentingan orang lain yang dilakukannya secara optimal dan tanpa pamrih, serta sering didahulukan di atas kepentingan dirinya sendiri. Kesabarannya dalam mengontrol emosinya ketika menghadapi suatu kondisi yang enggak pernah ia harapkan untuk terjadi. Kesetiaannya yang begitu besar kepada orang lain, terutama orang - orang yang disayanginya.  Kedewasaannya dalam memaafkan orang - orang yang pernah mengecewakannya, dan bahkan masih mampu bersikap baik kepada mereka. Kejujurannya dalam berkata, bersikap, serta bertindak yang dapat meyakinkan orang lain tanpa merasa takut untuk dibohongi olehnya. Keterbukaannya dalam berpikir membuatnya bisa menerima dan menghargai perbedaan dengan orang - orang yang enggak sependapat dengannya. Ketidakpeduliannya terhadap permasalahan - permasalahan kecil mampu mengeliminasi drama kehidupan. Semua hal - hal itulah, yang baik secara sadar atau enggak, telah diajarkan oleh seorang Ichsan Fiqri Darmawan kepada saya. Hal - hal yang membuat saya semakin kagum dengannya, sekaligus memotivasi saya untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik. I think that's one of the greatest things anyone could do to me.


December 07, 2015

#ROH 12 : Throwback To The Good Old Days

Di saat - saat seperti ini (baca: beberapa bulan enggak melakukan perjalanan jauh dan belum ada rencana untuk traveling di akhir tahun), salah satu hal yang bisa membuat hati saya adem dan sekaligus untuk meredam wanderlust yang melanda adalah dengan membuat postingan #throwback. Kali ini saya akan membahas perjalanan saya di Tokyo sekitar lima bulan yang lalu, yang belum sempat saya ceritakan disini, namun sudah kehilangan mood untuk menulis karena sudah teralihkan dengan postingan #ROH. Ha! Jadi sebelum mood saya kembali menghilang, saya akan mulai menyicil hutang cerita perjalanan di Tokyo. Dikarenakan begitu banyak tempat yang dikunjungi dan hal yang menarik untuk diceritakan, maka saya memulainya dari yang termasuk favorit saya dulu yaa :3

• Shibuya Publishing and Bookseller •

Melihat proses pembuatan roti di sebuah toko roti itu bagi saya adalah suatu hal yang biasa, karena sudah banyak toko roti yang memiliki konsep seperti itu. Bagaimana dengan melihat proses produksi buku di sebuah toko buku? Pertama kali membaca sebuah artikel di Kinfolk tentang sebuah toko buku yang memproduksi buku - bukunya di tempat yang sama, saya langsung memasukkan Shibuya Publishing and Bookseller ini ke dalam itinerary saya. Dengan melihat proses pembuatan buku yang dapat dilihat dibalik kaca transparan yang ada di dalam toko buku, interiornya yang sangat artsy, koleksi buku bahasa Inggris yang cukup banyak, serta pernak - pernik lucu lainnya yang dijual, tempat ini memang one of a kind dan recommended buat dikunjungi ketika kamu main ke Tokyo. Dengan jalan kaki sekitar 15 - 20 menit dari Yoyogi Park, kamu bisa menemukan tempat ini di sebuah neighbourhood yang memiliki suasana sangat berbeda dibandingkan pusat kota Shibuya. 




 • Loft Shibuya • 

"General goods store for daily living that makes lifestyles more complete". Berdasarkan kunjungan saya ke tempat ini, rasanya tagline tersebut enggak berlebihan, dan bahkan sangat tepat untuk mewakili Loft. Saya enggak tau bagaimana di cabang lain, tapi yang jelas the specialist in lifestyle goods ini memiliki produk yang sangat lengkap di Shibuya. Bayangkan aja, sebuah bangunan dengan tujuh lantai yang menjual segala macam barang mulai dari stationary, interior, homewares, craft, decoration, and other variety goods, you name it! Terdengar bikin kalap banget kaan?! Sayangnya begitu melihat harga yang tertera di rak, segala kekalapan saya langsung hilang. Haa! Tapi sebenarnya enggak heran sih mengingat kualitas desain dan barang yang dijual pun juga tinggi. 






Santa Monica Crepes • 
Jadi ceritanya, saya udah terobsesi dengan crepes ini karena melihat foto - foto cantik dari beberapa fotografer dan blogger favorit saya. Karena penasaran dengan display-nya yang sangat menggoda, saya yang saat itu sebenarnya hanya lapar mata akhirnya kalap membeli crepes yang isinya brownies, custard, whipped cream dan oreo. Wuih, kedengarannya aja udah bikin kenyang yaa! Makanya, begitu saya melihat "bentukan aslinya", saya langsung menyesal. Dan belum sampai gigitan ketiga, saya udah enggak kuat memakannya karena terlalu eneg! Mungkin bagi kamu yang tetap penasaran ingin mencoba, sebaiknya memilih topping yang enggak banyak macamnya. Oh iya, sebagai para penggemar bubble tea, saya dan adik saya tidak merekomendasikan bubble tea yang dijual disana. Selain karena rasanya yang hambar (bukan karena kurang manis loh ya), there's something wrong with the bubbles.   





  • Purikura  
Walaupun saya bukanlah pengguna dan (apalagi) penggemar dari beauty photo, serta enggak pernah tertarik untuk mengunduh aplikasi 360 atau sejenisnya di hp saya, tetapi rasanya saya akan melewatkan sebuah pengalaman menarik di Jepang tanpa menyempatkan ke Purikura. Sekilas, enggak ada yang berbeda antara booth di Purikura dan foto box di Indonesia, kecuali tampilan foto  para wanita cantik di setiap booth-nya. Perbedaannya baru terlihat ketika waktu mengedit foto yang menyediakan berbagai aplikasi untuk mempercantik wajah kita, mulai dari membesarkan mata, mencerahkan warna kulit sampai memberikan warna menarik pada bibir. Bagi kamu - kamu yang mau merasakan sensasi bergaya sebagai ABG labil tanpa merasa malu (ha!), Purikura ini dapat ditemukan di berbagai tempat di Tokyo, termasuk salah satunya di Takeshita-dori, Harajuku. 



Shimokitazawa 
Terlepas dari letaknya yang cukup jauh dari Shibuya (daerah dimana saya menginap selama enam hari) dan mengharuskan saya untuk membeli tiket kereta khusus Metro karena stasiunnya enggak dilalui oleh kereta JR Lines, namun pada kenyataannya perjuangan saya datang ke distrik ini enggak berujung penyesalan sedikit pun. Bukan hanya karena Shimokitazawa terkenal sebagai a heaven for all things vintage, tetapi neighbourhood ini juga dipenuhi oleh tempat - tempat kreatif dan suasananya yang sangat berbeda dari daerah lainnya di Tokyo. Sekedar saran aja, sebaiknya luangkan setengah hari supaya enggak terburu - buru dan bisa puas mengeksplore Shimokitazawa.